Pages

Jumat, 03 Januari 2014

FANFICTION - VIXX

”Otokaji?”
Author             :           Diemond
Cast                 :           (VIXX member)
                                    Cha Hakyeon
                                    Jung Taekwoon
                                    Lee  Jaehwan
                                    Kim Wonsik
                                    Lee Hongbin
                                    Han Sanghyuk
                                    and Cha Shin Rin (oc)
Genre              :           Psychology, Mistery, Thriller (maybe)
Rating              :           PG 15
Summary             :               Jangan bermain dengan nyawa!

Pernahkah kau bayangkan betapa enaknya bersantai di hari minggu, hari dimana tak ada setumpuk pekerjaan yang mengingatnya saja rasanya sudah bikin mual. hari dimana kau bisa berjalan jalan bersama teman temanmu ataupun sekedar dirumah, dibawah selimut yang hangat.  Namun, sekarang buatku itu hanyalah sebuah angan-angan, merasakan segarnya udara pagi pun aku tidak bisa, bagaimana dengan menonton tv dan menyesap susu coklat? Oh... ayolah itu hanya sebuah angan semata.
Sekarang aku berada di tumpukan buku yang disusun rapi, yang setia  menemaniku bermalam disini. Perpustakaan.  Ya, aku bermalam disini. Demi tugas dari dosen yang super duper menjengkelkan itu aku merelakan jatah hari mingguku diambil.
Dihadapanku sekarang ada beberapa buku tebal. Mataku sampai sakit karna harus menatap layar laptopku berjam-jam, bagaimana dengan wajahku? Jangan tanyakan itu, kantung mata yang mengitam layaknya mata panda bertengger disana ditemani muka kusam dan rambut berantakan. Akupun sampai bertanya pada diriku sendiri, apa aku benar seorang wanita?  Melihat kaca pun aku tak tega, melihat refleksi bayanganku sendiri, pasti menyeramkan.
Ku regangkan otot-ototku yang menegang. Kulihat sekarang sudah pukul 08:00 pagi, berarti aku sudah 11 jam disini. Tapi tugas ini pun belum selesai semua, ingin rasanya menjerit, namun apadaya, tugas ini harus ku selesaikan sebelum jam 12:00 siang nanti, aku tak mau mencari masalah dengan nenek sihir itu jika terlambat mengumpulkan tugas ini.
“ Aish.... kenapa tugas ini belum selesai juga sih?” Ucapku frustasi. Aku kembali membuka-buka buku yang ada di hadapanku. Materinya masih kurang, pikirku. Saat ini aku sedang meresensi novel terbitan tahun 1800­an. “Harus ada 5 novel dan saya tidak mau kau hanya meng copy paste dari internet! Kalau sampai itu terjadi, nilaimu akan saya kasih 0”  Itulah yang diucapkan si nenek sihir. Sedangkan aku baru meresensi 4 novel, tinggal 1 novel lagi. Tinggal tumpukan buku disudut ruangan yang belum terjamah olehku. Akupun segera melesat kesana, siapa tau masih ada novel tahun 1800an yang bisa aku resensi. Bukan hal mudah mencari novel terbitan lama, diperpustakaan sebesar inipun hanya ada beberapa.
Mataku menelusuri satu persatu deretan buku itu. Aku mengambil satu satu buku berjudul “Dr. Jekyll and Mr. Hyde” lalu kubuka tahun terbitnya dan aku sangat bersyukur sekali karna dewi fortuna masih mempunyai belas kasihan untukku. Tahun yang tertera di novel tersebut adalah tahun 1886, yang berarti memenuhi kriteria tugasku.
Tolong... tolong aku, siapapun tolong aku...
Aku seperti mendengar suara rintihan minta tolong, bulu kudukku seketika berdiri, hawa di pojok perpustakaan ini berubah.
Tolong... tolong aku, tolong....
Aku tidak bermimpi. Itu suara orang meminta tolong. Entah keberanian darimana aku beranikan diri mencari sumber suara. Dipaling ujung perpustakaan ini aku melihat sebuah pintu kecil. Aku medekati pintu kecil itu, aku yakin ada orang didalam sana, karena suaranya semakin jelas saat aku mendekatinya.
Tolong... uhuk-uhuk, tolong...
Benar ada orang didalam sana, aku mencoba membuka pintu itu. Terkunci. Ah, kenapa pintu ini terkunci, aku gerak gerakan knop pintu sampai beberapa kali tetap tidak bisa. Mengambil ancang ancang jauh aku berniat mendobrak pintu itu, nihil. Tetap pintu itu tak bergeming, yang ada hanya lenganku yang sakit. Aku berfikir sejenak, sampai ide cemerlang muncul diotakku.
“ Bertahanlah didalam, aku akan segera kembali” Aku berbicara kepada orang yang didalam, entahlah dia mendengarnya atau tidak. Buru-buru aku kembali ke tempat awal aku mengerjakan tugas, mencari empat pensilku dan mengambil sebuah clip atau penjepit kertas. Semoga berhasil, pikirku. Dengan sigap aku kembali ke pintu kecil itu berada.
Dengan cepat aku meluruskan clip yang ada di tanganku, lalu kumasukkan ke dalam lubang kunci. Ternayata ada gunanya juga film-film tentang pencurian yang ada di tv. Buktinya, aku sekarang sedang mempraktekannya. Dengan satu dua gerakan memutar kekanan dan kekiri. Clek. Pintu pun terbuka, sepertinya aku memang berbakat menjadi pencuri seperti ini hahaha. Kusingkirkan kebahagiaanku, lalu aku langsung masuk kedalam ruangan itu. Kulihat sesosok pria berpakaian hitam tengah tertidur didalam sana, kupegang tangannya dan mengecek nadinya, syukurlah dia masih hidup. Tubuhnya dingin sekali, wajahnya pucat, ada beberapa memar di beberapa bagian tubuhnya, disudut bibirnya pun terdapat darah yang sudah mengering.
“ Hai kau masih bisa mendengarku? Katakan sesuatu, aku telah menolongmu” Aku berusaha berkomunikasi dengannya. Kutepuk-tepuk pipinya. Perlahan matanya terbuka, bisa kurasakan tangannya menggenggam tanganku, tatapannya nanar.
“ Tolong... keluarkan aku dari sini, aku sudah tidak tahan” Jawabnya parau.
“ Tenanglah, aku telah menolongmu, ayo kita keluar dari sini” Titahku.
 Aku membantunya untu keluar dari ruang sempitnya. Sampai diluar, aku mengajaknya duduk ditempat aku mengerjakan tugas tadi. Tak lupa kuberikan mantel tebalku padanya, mengingat tubuhnya sangat dingin saat ku sentuh tadi.
Beruntung diperpustakaan ini belum banyak orang yang datang, jadi aku tidak perlu khawatir akan tatapan orang yang menganggap “aku melakukan hal-hal aneh pada pria ini”.
Segudang pertanyaan menumpuk diotakku, bagaimana dia bisa berada didalam sana? Kenapa tubuhnya penuh luka? Atau mengapa pintu itu terkunci dari luar? Mulutku sudah gatal ingin meluapkan semuanya, namun aku tahan, aku tak tega melihatnya. Sekarang ia tertidur dengan kepala bertumpu pada buku yang bergelut denganku semalaman. Ia memejamkan matanya, keningnya berkerut seperti menahan rasa sakit. Iba melihat darah kering disudut bibirnya, akupun berniat membersihkan darah itu menggunakan tissue basah yang kuambil dari ranselku. Pelan-pelan kubersihkan darah itu dari sudut bibirnya, keningnya kembali mengkerut tatkala menahan sakit.
“ Aww..”
“ Ahh mian aku membangunkanmu”
“ Gwenchana, terima kasih kau mau menolongku” Jawabnya, sungguh, siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa iba.
“ Ne... Oh iya, namaku Cha Shin Rin, namamu?” Aku mengulurkan tanganku.
“Aku... Lee Hongbin imnida” Diapun menjabat tanganku.
Dilihat lebih dalam lagi, Hongbin ternyata sangat tampan, manik matanya sungguh mempesona ditambah garis wajahnya yang tegas. Dalam keadaan seperti ini saja wajahnya masih terlihat tampan. Tak terasa aku menatapnya begitu lama, mengagumi setiap inci wajahnya. Sampai sebuah deheman menyadarkanku. Bodoh kau Shin Rin! Sungguh bodoh! Mengapa kau begitu lama menatapnya, sampai-sampai orang yang ditatap merasakannya.
“ Hmm... ngomong-ngomong kenapa kau bisa terkunci didalam sana?” Aku memulai obrolanku.
“ Aku juga tidak tau, tiba-tiba aku sudah berada didalam sana, sekarang dimana aku?” Dia memperhatikan sekelilingnya.
“ Kau ada di perpustaakaan kota. Lalu dimana kau tinggal?” Aku ingin menggali informasi lebih dalam tentangnya.
“ Tempat tinggal? Dimana? Sungguh aku tidak mengingatnya. Aku tidak mengingat apa-apa, kecuali namaku, Lee Hongbin” Ia seperti sedang mengingat-ngingat apa yang terjadi, namun sepertinya ia kehilangan ingatannya. Buktinya, ia hanya tau namanya saja.
“ Ah, kau tidak mengingatnya? Tidak apa-apa, mungkin ingatanmu akan pulih kembali seiring berjalannya waktu” hey sejak kapan kau sok tau seperti ini Cha Shin Rin” Lalu, kau akan kemana setelah ini?”
“ Aku tidak tau” Hongbin menggelengkan kepalanya.
Shin Rin bodoh. Mengapa kau bernyata perntanyaan bodoh seperti itu. Runtukku kesal
“ Bagaimana kalau kau ikut kerumahku? Aku tak tega melihat lukamu itu, nanti akan aku obati sesampainya dirumah, lagi pula kau juga tidak tau harus kemana kan?”
“ Kerumahmu? Tidak apa-apa? Tapikan kita baru saja kenal” Jawabnya ragu.
“ Gwenchana, aku tau, kau bukan orang jahat” Sesaat aku melupakan tugasku yang belum terselesaikan. Persetan dengan tugas itu.
“ Kau sungguh baik, terima kasih” Hongbin tersenyum. Tuhan... senyumannya sungguh indah, siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati dengan senyumannya. Dimple nya yang dalam menambah kesempurnaan wajahnya.
“ Ayo ikut aku, kita kerumahku sekarang”
Akupun segera merapihkan tasku, memasukan kertas ketas gila itu dan notebook berwarna ungu hadiah dari kakakku. Aku berjalan keluar perpustakaan sambil memapahnya, karena kulihat ia berjalan sedikit terseok dan akhirnya aku membantunya berjalan. Kuhiraukan tatapan penjaga perpustakaan yang melihatku dengan tatapan aneh. Aku berjalan menuju parkiran tempat aku memarkirkan mobilku.
Jalanan kota seoul sedang lengang, maklum hari minggu. Orang-orang biasanya memanfaatkan untuk berolahraga daripada berkendara.
Sesampainya dirumah aku langsung turun dan tak lupa membantu hongbin turun dari mobil.
Ting nong Ting nong
Aku menekan bel rumahku. Semoga saja kakakku sudah bangun dari tidurnya. Tak lama muncul sesosok pria dengan baju sleveless dan celana pendek yang tak lain adalah kakakku, ken.
“ Rin... kau sudah pulang, Nugu?” Kakakku heran melihatku memapah orang asing.
“ Hongbin imnida” Hongbin menunduk memberi hormat.
“ Nanti saja ku ceritakan oppa, biarkan kami masuk dulu” Akupun melesat masuk kedalam rumah. Kakakku masih heran melihat kami berdua.
…………………..
“ Rin… siapa laki-laki yang kau bawa tadi?”
“ Ah,dia? Aku juga baru bertemu dia diperpustakaan kota tadi” Kataku santai. Mataku masih menatap layar tv.
“  YA!!! Kau sudah gila, eoh? Kenapa kau bawa orang asing kerumah ini? Kalau dia ada niat jahat bagaimana?” Cerca kakakku sarkastik. Beginilah kakakku, Manusia super duper bawel dirumah ini.
“ YAYAYA!! Ada suara ribut rebut apa ini?” Belum selesai masalah yang satu, sudah ditambah masalah lainnya. Kakak tertuaku ikut bergabung dengan kami. Jangan harap dia bisa membantuku, karena mereka berdua lebih sering bersekongkol untuk menjatuhkanku.
“ Ayolaah oppa, bukannya kau juga sering membawa gadis-gadis itu kerumah ini? Tanpa sepengetahuan Hak Yeon oppa?”
“YA!! Benarkah itu ken? Kau sering membawa gadis kerumah ini tanpa sepengetahuanku?” Sudah dipastikan akibat perkataan kutadi, Ken oppa dan Hak Yeon oppa akan betengkar. Rasakan itu Ken oppa, sekarang aku yang menang. Aku menatap Ken oppa dengan penuh kemenangan.
“ Ah… Itu..itu.. mereka hanya temanku, tak lebih, sumpah!” Ken oppa melemparkan tatapan lihat-nanti-kau-akan-mati-ditangan-ku.
Sebelum aku menyaksikan peperangan ini, aku melarikan diri menuju kamar tamu. Tempat Hongbin beristirahat. Terdengar Ken oppa memanggil namaku, namun tak kugubris sama sekali.
KREEET
Kulihat Hongbin masih menutup matanya. Untung tadi aku sudah mengobati lukanya. Melihatnya seperti itu, layaknya melihat bayi yang sedang tidur dipangkuan sang ibu, damai sekali.
“ Mau sampai kapan kau memandanginya seperti itu?” Sebuah suara bisikan hamper saja membuat aku berteriak. Untung saja aku masih bisa menahannya.
“ Ya! Oppa apa yang kau lakukan? Kalau aku berteriak dan dia bangun bagaimana?” Jawabku berbisik sambil menunjuk Hongbin yang masih tertidur.
“ Biarkan saja, toh dia bukan siapa-siapa” Hak Yeon oppa menjawab dengan santainya.
Kedua kakakku memang tak ada yang beres. Tapi dibandingkan dengan Ken oppa, tingkat kewarasannya lebih baik Hak Yeon oppa. Karena Hak Yeon oppa merupakan kakak tertua kami. Semenjak orangtua kami pindah ke Jepang. Aku tinggal bersama mereka. Sebenarnya aku tak ingin tinggal bersama mereka, lebih baik tinggal di apartemen sendiri, tapi orang tuaku tak mengizinkannya. Dengan terpaksa aku harus tinggal disini bersama mahluk-mahluk itu.
Hak Yeon oppa menarik tangan kumenjauh dari kamar tamu menuju taman belakang rumah kami.
“ Siapa laki-lakiitu, Rin?” Pertanyaan itu muncul lagi.
“ Akutidak tau oppa, aku menemukannya di Perpustakaan kota tadi pagi” Entah harus berapa kali aku harus mengatakan kalimat ini.
“ Maksudmu menemukannya?” Hak Yeon oppa mulai penasaran.
“ Iya, tadi aku menemukannya terkunci di sebuah pintu kecil di ujung rak Perpustakaan kota”
“ Apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakana Rin”   
                Aku mulai mencerikan awal aku bertemu dengan Hongbin. Semuanya aku ceritakan padanya, tak ada yang kurang atau pun kulebih-lebihkan. Namun hanya kerutan di dahinya yang kudapatkan, entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang aku ceritakan.
“ Kau mengerti tidak dengan yang kuceritakan oppa?”
“ Ah, aku tidak mengerti apa yang kau katakan Rin. Mana ada orang yang terkunci didalam perpustakaan dan tak ada yang mengetahuinya? Atau jangan jangan dia...” Hak Yeon oppa menggantungkan kalimatnya.
“ Jangan berfikir kau dia itu hantu oppa, kalaupun dia hantu, mana mungkin kau dan Ken oppa bisa melihatnya, dan juga mana mungkin dia merintih kesakitan seperti itu, dasar pabo!” Ujar ku geram karna pikiran pendek kakakku yang satu ini.
“ Dasar dongsaeng kurang ajar. Semoga saja nanti dia tidak menghilang tiba-tiba, atau mungkin dia akan masuk ke kamarmu dan mencekikmu sampai kau tak bisa bernafas lagi dan...”
“ CUKUP OPPA!!!!” Aku berteriak untuk menhentikan ocehannya yang tidak jelas itu. Sebenarnya aku sempat berfikir apa benar yang dikatakan Hak Yeon oppa, namun firasat itu ku buang jauh-jauh. Semuanya aman Rin, tidak ada yang perlu kau takutkan! Hongbin itu manusia! Tadi kau menyentuhnya dan dia nyata Rin! Ayolah... Jangan terpengaruh omongan gila kakakmu itu, batinku.
…………………..
“ Non, ada telpon buat non” Bibi Seung -pembantu kami- datang sambil membawa telpon rumah ditangannya. Saat ini aku sedang dikamarku, menatap langit-langit dan tak tau apa yang harus kulakukan.
“ Dari siapa bi?”
“ Katanya dari teman non dikampus”
“ Temanku? Ah baiklah, terima kasih bi” Aku langsung mengambil telpon dari gengaman Bibi Seung.
“ Yeoboseo?”
“ Shin Rin... Ini aku Hyuk. Bagaimana tugasmu? Apa sudah selesai? Aku ingin mengajakmu mengumpulkan tugas ini” Jedarrr, bagai petir diteriknya matahari, aku mengingat sesuatu. TUGASKU BELUM SELESAI. Bagaimana ini, kalau aku tidak mengumpulkannya sudah dipastikan aku akan mendapat nilai nol dari dosen creepy itu.
“ YAA! Cha Shin Rin, Kau mendengarku tidak? Jangan-jangan kau belum mengerjakan tugasmu itu? Lebih parah lagi, atau kau lupa mengerjakannya Rin?” Cerca Hyuk di ujung telpon sana.
“ YAA! Pelankan suaramu! Aku tidak mau tuli mendadak mendengar suaramu itu pabo! Aku sudah mengerjakannya, tapi... masih kurang satu resensi lagi”
“ Shin Rin pabo! Cepat selesaikan! Ini sudah pukul 11:20, tenggat waktunya pukul 12:00 siang nanti, dan kau tau jarak rumah ke kampus kita memakan waktu 30 menit? Jadi kau hanya punya waktu 10 menit untuk menyelesaikannya, palli!!” Suara Hyuk terdengar lebih khawatir dibanding denganku. Maklum saja, dia sudah menjadi sahabatku sejak kami duduk di elementary school, dan juga rumah kami tak berjauhan. Hanya beberapa blok dari rumahku.
“ Ah kau benar Hyuk, kalau gitu sampai nanti, aku akan menyelesaikannya secepatnya, annyeong” Tut. Aku mematikan sambungan telponku dengan Hyuk. Secepat kilat aku membuka laptopku dan mencari novel berjudul Dr. Jekyll and Mr. Hyde, untung tadi aku masih mengingatnya. Persetanlah, jika dosen aneh itu mengetahui jika aku meng copy paste resensi novel ini dari internet, toh dia juga tak akan mengetahuinya karena akan ‘tertutup’ dengan keempat novel yang aku resensi sendiri -hasil bermalamku di perpustakaan itu tentunya-. Kulirik jam di meja nakasku, pukul 11:00. Tepat sasaran, tugasku sudah selesai, tinggal mengumpulkannya saja ke dosen itu.
                Terdengar suara klakson mobil dari luar rumahku. Itu pasti Hyuk. Dia memang sering mengajakku pergi bersama ke kampus. Padahal aku juga bisa sendiri membawa mobilku, tapi dia selalu beralasan jika ia kesepian jika menyetir mobil sendirian (?). Memang pria aneh.
“ Sudah kau selesaikan tugasmu tuan putri?” Kata-kata itu menyambutku tatkala aku memasuki mobilnya.
“ Ne, semuanya sudah beres sekarang. Gomawo Hyuk kau sudah mengingatkanku. Jika kau tadi tak menelpon ku, sudah dipastikan aku akan ditelan hidup-hidup oleh dosen itu” Aku tersenyum sebagai tanda terima kasih kepadanya.
“ Aku memang pahlawanmu sampai kapanpun Rin” Hyuk membusungkan dadanya, tanda kalau ia memang selalu aku butuhkan.
“ Terserah apa katamu lah Hyuk. Ayo sekarang kita berangkat. Kau tak mau telat kan?”
“ Kajja! Let’s go” Mobilpun melesat menuju kampus kami.
…………………..
Hongbin pov
Kepalaku sakit sekali. Sekujur tubuhku pun merasakan hal yang sama. Pelan-pelan aku membuka kedua kelopak mataku. Dimana ini? Apa aku sudah mati? Tapi sepertinya belum, meskipun ruangan ini di dominasi warna putih, namun ini bukan disurga. Aaa aku masih hidup. Aku ingat, tadi aku ditolng oleh seorang gadis, Park Shin Rin. Gadis baik hati yang mau menolongku. Tapi... kenapa aku ditolongnya? Memangnya aku kenapa? Kenapa aku berpakaian serba hitam seperti ini? Pikiran itu berkecamuk di dalam otakku. Sungguh, aku tidak mengingat apapun, kecuali kejadian hari ini. Ada apa dengan diriku?. Kembali segudang pertanyaan di otakku berkecamuk meminta pertanggung jawaban.
KREEET
Pintu ruangan yang disebut kamar ini terbuka. Munculah sesosok namja berkulit tan dari balik pintu tersebut.
“ Kau sudah siuman rupanya?” Dia bertanya sambil berjalan mendekatiku.
“ Ne, maaf aku merepotkanmu” Aku merasa tak enak dengan orang ini.
“ Tak apa, kalau boleh tau siapa namamu?” Dia bertanya dengan sangat ramah kepadaku.
“ Lee Hongbin imnida”
“ Kau berasal darimana? Kata dongsaengku kau ditemukan terkunci di sebuah pintu  dalam perpustakaan?Bagaimana bisa? Ah iya kenalkan, aku Cha Hak Yeon, kakak tertua dari Cha Shin Rin”
“ Bangapseumnida. Masalah itu... Aku juga tak tau kenapa itu bisa terjadi. Aku tak mengingat apapun. Yang ku ingat hanyalah namaku dan kejadian tadi, saat adikmu menolongku”
“ Kau hilang ingatan maksudmu?” Muncul namja berambut agak ikal berwarna coklat muda dari balik pintu. Dia menatapku seolah dia tak suka kepadaku.
“ Ah kenalkan ini Cha Jae Hwan, pangil saja dia Ken Hyung. Kakak kedua Shin Rin, kami tiga bersaudara” Cukup detail Hak Yeon-ssi mengenalkan keluarganya kepadaku”
“ Annyeong haseo, Lee hongbin imnida” aku kembali memperkenalkan diriku.
“ Aku sudah tau namamu. Sekarang jawab pertanyaanku” Orang ini tak suka kepadaku, batinku.
“ Apa kau benar-benar kehilangan ingatanmu?” Sekali lagi ia bertanya kepadaku dengan nada agak sedikit ketus.
“ Cha Jae Hwan! Aku tak pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan kepada orang yang baru kau kenal” Omel Hak Yeon.
“ Tapi hyung, dia itu siapa? Kenapa seenaknya Rin membawanya kesini? Atau jangan-jangan dia hanya berpura-pura hilang ingatan dan akan berbuat jahat kepada kita?”
Telingaku panas mendengarnya. Jika aku tidak dalam keadaan ‘mengenaskan’ seperti ini. Sudah pasti aku akan keluar dari sini. Tapi posisiku terdesak. Aku tak ingat apapun. Hanya Shin Rin. Sekali lagi hanya Shin Rin yang ada dalam ingatanku.
“ Cha Jae Hwan! Jaga perkataanmu, keluar kau dari sini. Atau kau akan ku hukum!” Terlihat pancaran kemarahan dari Hak Yeon.
“ AAH hyung kau menjengkelkan!”
BRAAK
                Jae Hwan keluar dari kamar ini, tentu dengan dobrakan pintu yang memekikkan telinga.
“ Mian, Maafkan kelakuan dongsaengku yang satu itu” Tulus Hak Yeon meminta maaf kepadaku.
“ Gwenchana, Hak Yeon-ssi. Aku mengerti perasaannya”
“ Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa baikan?”
“ Kepalaku masih terasa berat, mungkin sedikit beristirahat akan mengembalikan keadaanku”
“Mau kupanggilkan dokter? Sepertinya kondisimu tak layak jika dikatakan sehat” Dengan luka memar disekujur tubuh dan juga luka disudut bibirku sudah dipastikan kondisiku jauh dari kata sehat.
“ Tak perlu Hak Yeon-ssi, aku sudah banyak merepotkanmu. Gomawo kau sudah mau menerimaku disini”
“ Gwenchana. Bukankah setiap manusia harus saling tolong menolong?. Dan kulihat kau memang orang baik Hongbin” Ternyata kebaikan hati Hak Yeon memang sama dengan Shin Rin. “ Ahh satu lagi, panggil saja aku hyung. Formal sekali jika kau memanggilku seperti itu”
“ Baiklah hyung, sekali lagi gomawo” Aku tersenyum, tanda terima kasihku kepadanya.
“ Istirahatlah, aku akan menyiapkan makan siang” Hak Yeon hyung berlalu meninggalkanku dikamar ini.
“ Ne hyung”
                Terdengar suara pintu ditutup, tanda Hak Yeon hyung telah keluar. Aku sangat berterima kasih kepada keluarga ini yang mau menerimaku. Meskipun mereka tak tau latar belakangku, namun aku diterima dengan sangat baik disini. Yah... meskipun kutau Ken Hyung tak bisa menerima kehadiranku seutuhnya. 
…………………..
Shin Rin pov
“ Ken oppa, Hak Yeon oppa...” Aku mencari kedua oppa ku sambil meneriakan nama mereka. Namun nihil, tak ada yang menjawab. Justru Bibi Seung yang datang menghampiriku.
“ Bibi Seung, Ken oppa dan Hak Yeon oppa dimana?” Aku seraya bertanya ke Bibi Seung. Tidak biasanya hari libur seperti ini mereka keluar rumah. Biasa mereka akan menghabiskan libur mereka dengan bermalas malasan dirumah.
“ Tuan Ken dan Tuan Hak Yeon sedang menghadiri acara pernikahan tetangga sebelah Non”
“ Ohh begitu...” Aku hanya ber-oh ria.
PRAANG
                Terdengar suara benda pecah. Sepertinya berasal dari kamar tamu. Aku mengingat-ingat. Oh Tuhan, jangan sampai terjadi. Aku berlari menuju kamar tamu, disusul Bibi Seung dari belakang.
                Sungguh aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku tak menyangka ini akan terjadi. Hongbin menghancurkan apapun yang ada di dalam kamar ini. Vas bunga, kursi, bahkan kaca dikamar ini dihancurkan semuanya. Dan jika kau melihat adegan selanjutnya kau akan berteriak histeris. Hongbin ingin mencelakai dirinya sendiri dengan menyayat nadinya menggunakan pecahan kaca yang ia pecahkan. Sontak aku menghampirinya. Aku abaikan panggilan Bibi Seung yang memanggil namaku atau kata-kata jangan mendekat. Kuabaikan ketakutanku, dipikiranku saat ini, Usaha Hongbin harus dihentikan. Kubuang jauh-jauh pecahan kaca tadi dari tangan Hongbin. Sialnya, tanganku terluka terkena sayatannya. Aku tak mau rumah ini dimasuki pria-pria berseragam lengkap dengan senjata dan dengan dibantu ahli forensik karena menemukan seseorang bunuh diri dengan memotong urat nadinya. Jangan sampai itu terjadi.
“ HONGBIN! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU AKAN TERLUKA! HONGBIN SADARLAH!” Aku menepuk nepuk kedua tanganku dipipinya. Kulihat tatapan matanya penuh dengan ketakutan, ketakutan yang luar biasa. Seperti melihat mahluk yang mengerikan -itulah yang kulihat-.
“ PERGI KAU! PERGI! JANGAN MENDEKAT, PERGIIIII!” Hongbin menceracau tak jelas. Aku tau kalimat itu bukan ditunjukkan untukku, karena kedua manik mata Hongbin sedang tak menatap kearahku. Tapi kearah lainnya, entah apa yang ia lihat.
“ HONGBIN! TATAP MATAKU! APA YANG KAU LAKUKAN EOH? ADA APA DENGANMU LEE HONGBIN?” Aku berteriak untuk menyadarkannya. Aku berusaha mempertemukan kedua manik mata Hongbin dengan mataku. Sedikit paksaan, akhirnya Hongbin menatapku. Perlahan-lahat bayangan ketakutan Hongbin memudar. Bisa dilihat, sekarang ia sedang memelukku, menumpahkan seluruh airmatanya di pundakku.
“ Gwenchana, aku ada disini, tenanglah” Aku berusaha menenangkannya. Kuusap-usap pucuk kepalanya. Tubuhnya bergetar, ia mencengkram bahuku agak keras. Sakit, tapi aku berusaha memakluminya.
“ Mianhaeyo Shin Rin. Maafkan aku. A-a-ku a-ku...” Hongbin berbicara dengan terbata-bata.
“ Sttt... Sudah tak apa, tenangkan dirimu. Ayo kita keluar dari sini” Aku membantu Hongbin keluar dari kamar ini. “ Bibi Seung, Tolong bersihkan ruangan ini, aku akan mengurus Hongbin” Kataku sebelum aku meninggalkan  kamar ini. Bibi Seung hanya mengangguk. Mungkin ia masih shock dengan apa yang terjadi.
                Aku membawa Hongbin keruang tamu. Tubuhnya masih bergetar. Kuselimuti tubuh Honbing dengan selimut. Aku berlari ke dapur untuk mengambil secangkir air putih.
“ Hongbin, minumlah” aku menyerahkan segelas air putih kepada Hongbin. Hongbin segera menghabiskan air itu. Tetap saja tubuhnya masih bergetar. Aku mencoba merapatkan selimut yang ada ditubuhnya, seketika Hongbin kembali memelukku pelukannya sangat kuat, seakan-akan aku akan pergi meninggalkannya jauh. Jujur saja, aku agak sedikit tak nyaman dipeluk seperti ini. Alasannya? Ayolah aku baru bertemu hari ini dengannya kamipun belum mengenal satu sama lain hanya sekedar nama saja. Semoga Hongbin lebih baik, hanya itu yang aku pikirkan.
Author pov
Ketika Rin berada di pelukan Hongbin, tanpa disangka-sangka, kedua kakak Rin sudah pulang dari pesta. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat. Dongsaeng mereka sedang berpelukan dengan laki-laki asing yang tak lain adalah Hongbin.
“ Mwohaneungeoya?” Sang kakak kedua langsung bersuara tatkala melihat pemandangan itu.
“ Aish... bisakah kau mengecilkan suaramu Ken oppa? Dia sepertinya tertidur” Jawab sang adik dengan santainya. “ Hak Yeon oppa, bisakan kamu membantuku membaringkan Hongbin?” Pinta sang dongsaeng. Sang kakak dengan sigap membantu adik bungsunya tersebut. Hati-hati ia membaringkan Hongbin di sofa.
Sang kakak kedua sebut saja Ken hanya memandang kedua saudaranya dengan tatapan jengkel.
“ Rin! Aku menunggu penjelasanmu” Ken dengan tidak sabar langsung bertanya kepada Rin apa yang sedang terjadi. Bagi Ken semuanya harus jelas.
“ Katakan Rin, kenapa kau bisa berada di pelukan Hongbin? Sampai Hongbin tertidur pula” Hak Yeon juga menuntut penjelasan dongsaengnya itu.
“ Hhhh... Aku juga tak tau kenapa seperti ini, kau tau oppa? Waktu aku pulang dari kampus aku medapati Hongbin ingin Bunuh diri!” Ada nada iba dalam suara Shin Rin
“ Maksudmu? Orang aneh itu mau bunuh diri? Dirumah ini? Oh... dia memang laki-laki gila, aku yakin” Kata Ken kesal sambil melirik Hongbin yang tengah tertidur.
“ Dia bukan orang gila oppa, namanya Hongbin oppa” Shin Rin bersabar menghadapi kelakuan oppanya yang satu ini.
“ Rin, sadarlah, kau saja hanya tau namanya. Siapa dia sebenarnya kau tidak tau kan?” Ken  mulai tersulut emosinya mendengar jawaban dari mulut dongsaengnya.
“ Sudah-sudah, sekarang sudah malam, tak pantas bertengkar. Aku tak mau tetangga mendengar kalian ribut, apalagi sampai terusik karena kalian. Besok saja kita lanjutkan. Sekarang Ken, bantu aku memindahkan Hongbin ke kamarnya” Perintah Hak Yeon dengan bijak. Saat-saat seperti ini hanya Hak Yeon yang bisa jadi penengah.
“ Hyung!!! Yang benar saja! Masa aku harus memindahkan raksasa ini” Jawab Ken. Memang jika dilihat tubuh Ken lebih kecil dengan tubuh Hongbin, begitupun dengan tubuh Hak Yeon.
“ Tidak ada bantahan Cha Hak Yeon” Bagaimanapun Ken menyatakan ketidak setujuannya, pada akhirnya ia akan menurut dengan apa yang dikatakan Hak Yeon.
                Mereka berdua pun menggotong Hongbin ke dalam kamar. Tentunya dengan kamar yang sudah rapi. Dengan hati-hati Ken dan Hak Yeon menidurkan Hongbin di ranjang king size itu. Tak lupa Shin Rin menyelimuti tubuh hongbin dengan bed cover tebal.
                Mereka bertiga keluar meninggalkan Hongbin sendiri dikamarnya -kamar tamu sudah menjadi kamar Hongbin sekarang-.
“ Sekarang kalian pergi tidur, besok kita lanjutkan lagi, jaljayo” Hak Yeon menitah Ken dan Shin Rin menuju kamarnya masing-masing.
“ Ne... oppa, jalja”
“ Ne...”
                Ken dan Shin Rin bergegas masuk kekamar mereka masing-masing. Terbersit dipikiran Shin Rin. Apa yang sedang terjadi dengan Hongbin. Kenapa Hongbin bersikap sepertiitu? Ada apa dengannya. Tapi hanya bisa dipendam sendiri oleh Shin Rin. Hari ini Shin Rin mengalami hari yang sangat aneh, pikirnya.
…………………..
                Shin Rin pov
Pagi ini udara di Kota Seoul sedang tidak mendukung. Padahal hari ini hari ini hari Senin. Hari dimana semua aktifitas dimulai. Suara air hujan yang menghantam atap rumah membangunkan ku pagi ini. Ah… kepalaku sedikit pusing. Kejadian semalam kembali terngiang dikepaku. Itu salah satu hal yang membuat kepalaku sedikit berdenyut saat ini.
                Aku penasaran bagaimana keadaan Hongbin saat ini. Langsung saja aku bergegas kekamar Hongbin. Belum aku menginjakkan kakiku keluar dari sini. Suara memekakkan telinga sudah terdengar dari luar.
“ RIIIIN!! IRONAAA, PALLI!” Itu suara Ken oppa, suara yang melengking sudah pasti itu suara milik Ken oppa.
“ YAA!! Jangan berteriak oppa, aku sudah bangun dari tadi!”Kataku tak kalah keras dari suara oppa. Sudah dipastikan suara ku dan Ken oppa terdengar keseluruh rumah ini.
“ Dasar pemalas, kau ini seorang wanita, kenapa bisa semalas ini” Jika kau tau, Ken oppa lebih bawel daripada ibu dimana pun. Bahkan, ibuku sendiri kalah darinya.
“ Ken oppa bawel!” Aku menjulurkan lidah saat aku meliahat Ken oppa. Aku berlari meninggalkannya dan bergegas ke kamar Hongbin. Sekedar mengecek keadaannya.
“ Hongbin… Apa kau sudah bai… Ya! Hongbin kau kenapa?”Apa yang kulihat saat ini? Oh tidak, tidak lagi untuk sekarang ini Hongbin. Keadaanmu semalam saja sudah membuat kepalaku berdenyut.
Aku melihat Hongbin tengah meringkuk di pojok ruangan dengan kedua tangan memengang kakinya. Ia menunduk. Sepertinya ia sedang menangis, tubuhnya terlihat bergetar. Kutatap matanya, kosong. Persis seperti semalam.
“ HAK YEON OPPA, KEN OPPA, BANTU AKU!” Aku berteriak meminta bantuan kepada kedua kakakku. Sontak mereka langsung menghampiri suaraku.
“ YA! Shin Rin ada apa dengan Hongbin? Kenapa dia seperti ini?”Hak Yeon oppa buru-buru membantu Hongbin untuk duduk di atas kasur. Tubuh Hongbin berkeringat. Padahal hari ini sedang hujan diluar.
“ Rin, kenapa lagi dia?” Ken oppa menanyakan hal yang sama.
“ Molla, aku tidak tau, tadi sewaktu aku masuk kekamar ini, Hongbin sudah seperti ini” Jawabku sekenanya. Jujur saja aku juga kaget melihat Hongbin seperti ini.
“ Hongbin! Tatapaku! Ada apa denganmu?” Hak Yeon oppa bertanya kepada Hongbin mengenaisikapnya.
“ Tolong…Jangan bunuh aku, a-ak-aku tidak bersalah, kumohon jangan membunuhku” Lagi-lagi Hongbin meracau tidak jelas.
“ Jongshincharyo Lee Hongbin! Ini aku HakYeon! Mana mungkin aku membunuhmu, sadarlah!” Hak Yeon oppa berusaha mengembalikan kesadaran Hongbin yang melayang entah kemana.“Hongbin! Tatap hyungmu!” Hak Yeon oppa memaksa Hongbin untuk menatapnya. Berhasil. Kedua manic mereka bertemu. Racauan Hongbin pun sudah tak terdengar, hanya ada suara tangisan yang keluar dari mulutnya.
“ Hyung, sebaiknya kita membawanya kedokter, sepertinya dia tidak sehat” Ken oppa memberikan solusi yang cemerlang. Meskipun aku tau, Ken oppa tidak terlalu menyukai Hongbin sejak ia berada disini. Tapi bisa kulihat ada raut khawatir di wajahnya saat ini.
“ Ne oppa, kita bawa dia kedokter saja. Aku akan menyiapkan mobil”
…………………..
Author pov
Pagi itu menjadi pagi yang tidak mengenakan untuk Shin Rin, bagaimana tidak? Pagi ini ia sudah dipaksa untuk pergi ke tempat yang didominasi warna putih ini, tentunya untuk mengantarkan Hongbin. Rumah Sakit. Tempat yang paling dibenci Shin Rin, karena disini banyak sekali orang yang tidak berdaya diatas ranjang. Shin Rin tidak tega melihat mereka terbaring lemah disana, itulah alasan kenapa Shin Rin tidak menyukai Rumah Sakit.
Seorang pria memakai jas berwarna putih dan stetoskop yang bertengger dilehernya keluar dari ruang UGD. Dr. Kim Won Sik. Nama yang tertera di nametag yang ia kenakan.
“ Dok, bagaimana keadaan Hongbin dok?” Hak Yeon sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Hongbin.
“ Apakah kalian keluarga dari pasien?”
“ Saya Hyungnya dok” Jawab Hak Yeon asal. Tidak mungkin kan, Hak Yeon mengatakan bahwa Hongbin hanyalah anak yang ‘dipungut’ oleh dongsaeng tercintanya.
“ Pasien saat ini dalam tak sadarkan diri, karena tadi kami memberikan dia obat penenang. Sepertinya pasien mengalami sedikit gangguan dalam otaknya, sedaritadi pasien bergumam tidak jelas seperti sedang berhalusinas” Jawaban yang dokter ini berikan sama dengan apa yang terjadi semalam.
“ Apa penyakitnya berbahaya dok?”Tanya Shin Rin dengan nada khawatir.
“ Kami belum bisa memastikan penyakit apa yang dialami pasien, saya akan memanggil Dokter bagian Saraf dan Psikologi untuk mengecek apa yang dialami pasien. Untuk sementara pasien sudah bisa pindah ke ruang inap” Ujar sang Dokter. “ Anda sudah bisa mengurus administrasinya sekarang”
“ Baiklah dok kalau begitu terima kasih”
                Hak Yeon menuju ruang administrasi untuk mengurus perawatan Hongbin. Sedangkan Shin Rin hanya bisa tergolek lemas di bangku pengunjung Rumah Sakit. Ia tak habis pikir semua ini akan terjadi. Baginya ini sebuah mimpi, mimpi yang menakutnya.
“ Rin, everything will be alright, aku yakin” Ken memeluk dongsaeng kecilnya. Ken juga khawatir dengan Hongbin, tapi ia tak mau memperlihatkannya kepada dongsaengnya.
“ Oppa... maafkan aku, tak seharusnya aku membawa Hongbin kerumah dan membuat kalian repot seperti ini. Sungguh aku tak tau jika akan terjadi hal seperti ini” Shin Rin tak kuasa menahan air matanya. Ia merasa bersalah kepada kedua kakaknya.
“ Ini bukan salahmu Rin, jika kau tak membawa Hongbin kerumah, mungkin sekarang ia sudah kehilangan nyawanya. Kau pahlawan Rin, kau membantu orang lain yang membutuhkan. Memang awalnya aku tak suka melihat dia dirumah, tapi kusingkirkan keegoisanku, karena ku tau ia membutuhkan kita” Ujar Ken panjang lebar. Inilah sosok Ken sebenarnya, sosok yang penyayang. Dibalik omelan-omelannya yang membuat telinga berdengung, hatinya sangatlah baik.
“ Gomawo oppa, kalian memang kakakku yang paling baik” Shin Rin tersenyum, air matanya mengalir dipipi pinknya.
“ Uljima... Kita membantu Hongbin sama-sama, Ne?” Ken menghapus bulir-bulir bening yang mengalir di pipi adiknya.
“ Ne oppa” Shin Rin memeluk sang kakak dengan lembut. Terima kasih Tuhan, kau memberika kedua kakak yang sangat baik padaku, Shin Rin berdoa dalam hatinya.
…………………..
Hongbin pov
Dimana aku sekarang? Kenapa aroma ruangan ini sangat menyengat? Hey, kenapa tangan kiriku ada senuah benda tajam yang menembus kuliku? Dan sejak kapan aku memakai pakaian seperti ini?. Aku terbangun dengan sebuah tanda tanya besar dikepalaku. Setelah mengumpulkan semua kesadaranku, aku tau aku sedang berada di Rumah Sakit, itu tercium dari aroma ruang ini, aroma obat-obatan. Aku melihat Shin Rin tengah tertidur di kursi dengan tangan yang menopang kepalanya. Manis. Sungguh, saat seperti ini aku merasa dekat dengannya. Disebrang sana aku melihat Ken dan Hak Yeon hyung sedang terlelap disofa berwana cream. Kenapa aku dibawa kesini? Memangnya aku sakit apa? Aku kembali bertanya kepada diriku sendiri.
Shin Rin membuka matanya perlahan, ia terkejut melihatku.
“ Hongbin, kau sudah siuman” Kalimatnya sontak membuat kedua kakaknya terbangun.
“ Aku akan panggilkan dokter” Hak Yeon hyung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan ini.
                Tak berapa lama akupun sudah dihampiri 3 orang Dokter sekaligus, dan juga 2 orang suster. Ketiga Dokter itu memeriksaku dengan seksama, sang suster siap sianga mencatat apa yang Dokter itu katakan.
“ Hongbin-ssi, bagaimana keadaanmu, apa ada yang sakit?” Tanya dokter bernama Kim Won Sik.
“ Tidak ada yang sakit dok, memangnya aku kenapa?” Aku heran, kenapa aku bisa berada di Rumah Sakit ini, seingatku terakhir aku berada di kamar tamu rumah Shin Rin.
“ Apa kau tak mengingatnya Hongbin-ssi?” Dokter lainnya bertanya kepadaku.
“ Mengingat apa dok? Aku tak mengingat apa-apa, yang aku ingat terakhir aku masih berada diluar” Jawabku jujur.
“ Ah baiklah kalau begitu, istirahatlah, kau kehilangan banyak tenaga, makan yang banyak dan kendalikan dirimu, ne”
Apa maksud dokter ini dengan kau kehilangan banyak tenaga dan juga kendalikan dirimu, aku tak mengerti sama sekali.
“ Hongbin... Kau merasa baikan?” Shin Rin berjalan mendekatiku.
“ Memangnya aku sakit apa?” Ada apa dengan semua orang hari ini, batinku.
“ Ah... lupakan, yang penting kau sehat” Shin Rin seperti enggan memberitahuku.
“ Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, terakhir seingatku, aku masih berada dirumahmu, kenapa sekarang aku ada disini?”
“ Lebih baik kau beristirahat Hongbin, tubuhmu belum stabil” Ken hyung keluar dari pintu kamar mandi.
“ Tapi aku tak mengerti Hyung, karena aku sendiri merasa sehat, aku baik-baik saja Hyung” Aku bersikeras untuk mengatakan Aku baik-baik saja.
“ Keluarga dari pasien bernama Lee Hongbin, anda dimohon untuk menemui dokter” Seorang suster datang ‘memisahkan’ perdebatan ini.
“ Aku Hyung nya suster” Hak Yeon Hyung mengangkat tangannya.
“ Mari ikut saya, ada yang ingin dokter bicarakan dengan anda” Ujar sang suster sopan.
Hak Yeon Hyung akhirnya mengikuti suster itu keluar dari ruangan ini.
…………………..
Author pov
Di sinilah namja berbadan kekar a.k.a Lee Hongbin dirawat, Seoul Hospital. Rumah sakit ini terletak dipusat kota. Hongbin dirawat di kamar nomor 22, Hak Yeon mengambil kelas VIP yang terdiri dari seorang pasien saja, meskipun baru mengenal Hongbin, Hak Yeon tidak tega jika Hongbin ditempatkan bersama dengan pasien lain, mengingat penyakit Hongbin yang aneh itu.
“ Rin... aku pulang dulu ne? Aku ingin membersihkan badanku dan mengambil beberapa pakaian untuk Hongbin” Ken berbicara kepada Shin Rin yang sedang menyibakkan gorden, agar sinar matahari masuk keruangan itu.
“ Ne... Jangan lupa bawakan pakaian ku juga ya oppa, aku sudah menyuruh Bibi Seung untuk menyiapkannya”
“ Arraseo, Dan untukmu Hongbin! Istirahat yang cukup, awas kau macam-macam” Ken memberikan Death glare kepada Hongbin –meskipun itu bukan death glare yang mematikan karena lebih terkesa  lucu-.
“ Ne hyung, aku akan istirahat, gomawo Hyung” Hongbin menundukkan kepalanya. “ Karena aku kalian jadi repot seperti ini”
“ Sudahlah Hongbin, tak usah berterima kasih terus, intinya kau sehat kami juga ikut senang” Shin Rin mengeluarkan senyumannya.
“ Ck,Rin, asal kau tau, aku saja tak pernah mendapat senyuman seperti itu darimu” ucap Ken sinis.
“ Memang kau tak pantas mendapat senyuman dari ku oppa, kau lebih pantas mendapat ini...” Plok, dijitaknya kepada Ken oleh Shin Rin.
“ YA! Dasar bocah tengik!” Ken sekarang berusaha membalas jitakan Shin Rin. Mereka seperti kucing -Ken- yang sedang mengejar mangsanya -Shin Rin-. Mereka berkejaran mengelilingi ruangan. “ Kalau aku tidak ingat ini dirumah sakit, sudah habis kau denganku Rin” Ken mengepalkan tangannya. Sedangkan Hongbin hanya tertawa melihat kelakuan kakak beradik ini.
“ Aku tidak akan takut padamu oppa” Shin Rin meledek sang kakak.
“ Ah, bisa gila aku mempunyai dongseang sepertimu, aku pergi dulu” Ken berlalu keluar dari kamar itu.
“ Hahahaha dasar Ken oppa cerewet, Hati-hati dijalan oppa” Shin Rin tak dapat menahan tawanya melihat kelakuan kakaknya.
“ Hahahahahaha... Kakakmu lucu sekali Shin Rin” Hongbin berbicara kepada Shin Rin, Shin Rin menarik bangku untuk duduk disamping ranjang Hongbin.
“ Itulah kakakku, mereka memang ajaib, dan Hongbin, panggil saja aku Rin, aku tak terbiasa dipanggil Shin Rin” Kini Shin Rin sedang mengupas buah apel dengan telaten.
“ Baiklah, Rin... gomawo” Suara Hongbin terdengar tulus.
“ Hongbin, sudah berapa kali aku katakan jangan selalu ber terima ka- awww” Saking seriusnya berbicara dengan Hongbin Shin Rin tidak memperhatikan apel yang dikupasnya. Alhasil, sekarang tangannya tergores pisau.
“ Rin, gwencana? Kemarikan tanganmu” Hongbin meraih tangan Shin Rin dan menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Shin Rin.
                Shin Rin kaget dengan perlakuan Hongbin, sebenarnya ia saat ini sedang malu. Shin Rin terpaku melihat Hongbin. Merasa seperti diperhatikan, Hongbin menoleh ke arah Shin Rin, bibir Hongbin masih menempel di jari manis Shin Rin, kedua manik mata mereka bertemu, sampai akhirnya seseorang membuka pintu dan menghancurkan adengan romantis ini.
“ Apa yang kalian lakukan?” Pertanyaan Hak Yeon membuat kedua manusia itu kaget.
“ Ti tidak apa-apa” Ucap Shin Rin terbata-bata.
“ Kenapa tanganmu ada di bibir Hongbin eoh?” Sadar dari lamunannya Hongbin segera melepaskan ‘ciuman’ dari tangan Shin Rin.
“ Ah itu, tadi tak sengaja Rin melukai tangannya” Bela Hongbin malu-malu.
                Rona merah muda di pipi Shin Rin mungcul kembali, ditambah Hongbin yang salah tingkah. Hak Yeon yang melihat mereka seperti kepiting rebus hanya terkekeh menahan tawanya.
…………………..
                Semburan oranye di langit kini terganti dengan warna hitam yang dihiasi kerlip-kerlip nan cantik diatas sana. Lampu-lampu dijalan mulai dinyalakan, Hilir mudik orang maupun kendaraan satu per satu telah menghilang, digantikan dengan hangatnya kebersamaan didalam kotak kehidupan yang bernama rumah. Shin Rin melihat pemandangan diluar sana dari rooftop rumah sakit. Ini adalah kebiasaan seorang Shin Rin, jika ia membutuhkan ketenangan, dia akan mencari rooftop. Baginya, disini ia bisa mengeluarkan apapun tanpa orang mengetahuinya. Lamunan Shin Rin buyar tatkala Handphone di saku celananya berdering. Shin Rin bercakap dengan orang yang berada disebrang sana, setelah selesai ia mematikan Handphone nya dan kembali menaruh disaku celananya. Sekitar 10 menit berlalu datanglah seorang pemuda dengan sweater berwarna coklat, celana jeans panjang berwarna biru dan tak ketonggalan sneakers berwarna merah menghampiri Shin Rin, yang tak lain adalah Cha Hak Yeon,
“ Rin, sedang apa kau disini? Ayo masuk, nanti kau sakit” Kekhawatiran Hak Yeon bukan tanpa alasan, karena angin sedari tadi berhembus cukup kencang.
“ Ani, tenang saja oppa, aku sudah terbiasa dengan udara seperti ini”
“ Bukan Cha Shin Rin namanya jika menurut apa perkataanku”
“ Hahaha, tau saja kau Cha Hak Yeon” Shin Rin tertawa mengejek.
“ Ingat Shin Rin aku masih berstatus oppamu”
“ Mianhae, i’m just kidding okay?” Shin Rin menepuk pundak Hak Yeon
                Hening beberapa saat, kedua manusia ini sedang merasakan terpaan angin mengelus wajah mereka, mereka memejamkan mata untuk merasakannya.
“ Rin, aku ingin bicara sesuatu” Hak Yeon memecahkan keheningan mereka.
“ Ada apa oppa? Katakan saja”
“ Hmm tadi aku menemui dokter yang memeriksa Hongbin. Ternyata Hongbin didiagnosis mengidap Skizofrenia”
“ Skizofrenia? Penyakit apa itu oppa?” Shin Rin baru pertama kali mendengar nama penyakit itu.
“ Dari penjelasan dokter tadi, penyakit Skizofrenia menmpengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal pikiran, perasaan dan tingkah laku. Intinya, Hongbin harus menjalani perawatan psikologis”
“ Apakah penyakit itu berbahaya oppa?” Nada bicara Shin Rin terlihat khawatir.
“ Aku juga tidak terlalu mengerti tentang penyakit itu” Hak Yeon menggaruk kepalanya yang tak gatal. “ Lebih baik besok kau tanyakan kepada dokter yang merawat Hongbin. Semoga saja penyakit itu tidak berbahaya untuk Hongbin”
“ Semoga saja oppa”
…………………..
Shin Rin pov
Hari ini aku harus menemui dokter yang memeriksa Hongbin. Aku harus tau seberapa parah penyakit Hongbin. Tapi... dimana ruangan dokter itu, Sewaktu Hongbin diperiksa kemarin ia diperksa oleh 3 orang dokter sekaligus, tapi yang mana dari ketiga dokter itu yang merupakan dokter bagian psikologis. Aku berpikir keras sambil berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Entah kebetulan atau apa, aku bertemu dengan dokter yang kemarin di ruang UGD.
“ Hmm, permisi dok, kalau boleh tau ruangan dokter psikolog ada dimana ya?”
“ Bukankah kau keluarga dari pasien Hongbin?” Ah... ternyata dokter ini mengenaliku.
“ Ya benar aku keluarganya”
“ Mari kuantar kau keruangan Leo, Kenalkan aku Kim Won Sik Dokter bagian saraf”
“ Aku Cha Shin Rin” Aku menjabat tangan Dr. Kim Won Sik
                Aku berjalan bersama dengan Dr. Kim Won Sik menuju bagian psikologis. Tak berapa lama kamipun sampai.
“ Ini ruangannya, dia ada didalam, sepertinya tak ada pasien, kau bisa langsung masuk” Perintah Dr. Kim Won Sik.
“ Gomawo Kim Uisa”
“ Panggil saja aku Ravi, Terlalu formal jika kau memanggilku seperti itu” Aku merasa tak nyaman dengan tatapan Dr. Ravi yang errr sangat tajam itu.
“ Baiklah Ravi uisa” Aku bergegas meninggalkannya dan memasuki ruangan.
Terlihat sesosok pria menggunakan jas berwarna putih tengah menulis seusatu di mejanya. Baru saja aku ingin bertanya, pria itu langsung mempersilahkan aku duduk.
“ Uisa, aku ingin bertanya, sebenarnya, apa yang terjadi dengan pasien bernama Hongbin?” Aku bertanya to the point.
“ Pasien Hongbin mengidap penyakit Skizofrenia, yakni penyakit yang menyerang saraf pada otak. Hongbin menderita skizofrenia yang mengacu pada tipe Residualis yakni, sering berkhayal, berhalusinasi tidak teratur dalam berbicara dan berprilaku. Pasti Hongbin sering meracau tidak jelas kan? Dia seperti memiliki ‘teman’ dari dunianya sendiri” Dr. Jung Taek Woon -nama itu yang ada di nametag nya- menjelaskan dengan ekspresi datar.
“ Ne uisa, Hongbin sudah dua kali perprilaku aneh seperti itu. Penyebab Hongbin mengalami Skizofrenia karena apa uisa?” Aku memang saat sangat buta untuk urusan kedokteran.
“ Penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena akibat unsur kimia pada otak yang bermasalah, faktor genetika dan lingkungan, kondisi hidup yang penuh stres, atau yang lainnya”
               
Aku berusaha mencerna tiap-tiap kata yang dikatakan Dr. Jung Taek Woon.
“ Penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara total” Perkataan dokter ini membuatku tercekat, “ Namun dengan tes laboratorium, dukungan moril dari keluarga terdekat dan evaluasi psikologis secara berkala, gejala kambuhnya penyakit itu bisa diturunkan” Dokter ini sepertinya bisa membaca mimik wajahku, buktinya aku belum bertanya, dia sudah menjelaskan secara panjang lebar.
“ Kamsamnida Jung uisa, aku harap kau bisa membantu Hongbin menyembuhkan penyakitnya”
“ Ne...” Wajahnya sangat dingin untuk ukuran seorang dokter. Beda sekali dengan Ravi uisa yang ramah dan murah senyum.
…………………..
                Karena pengap dengan suasana rumah sakit, aku memutuskan untuk menghirup udara diluar. Sekarang aku berada di sebuah cafe dekat rumah sakit. Hongbin aku titipkan kepada Ken oppa. Aku memesan segelas Hot chocolate. Sambil menyesap minumanku aku menatap jalan diluar. Pikiranku tertuju pada perpustakaan dimana aku menemukan Hongbin. Hasrat ingin mengetahui siapa Hongbin seketika muncul. Aku masih penasaran dengan identitas Hongbin. Sampai suara seseorang menyadarkanku.
“ Rin! Apa yang kau lakukan disini?” Hyuk, sahabatku ternyata datang.
“ Tidak lihat aku sedang minum segelas chocolate?” Ucapku ketus.
“ Uuuu ketus sekali nada bicaramu, pasti kau sedang dirundung masalah, aku tau itu. Ayolaah cerita padaku, ada masalah apa?” Gotcha! Hyuk memang selalu tau jika aku sedang banyak pikiran, ia bisa membaca ekspresiku. Tidak salah memang aku berteman dengannya.
“ Aku sedang memikirkan seseorang Hyuk”
“ Huaaah! Kau sedang memikirkan kekasihmu? Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa kau tak menceritakannya padaku?” Hyuk membrondongku dengan beberapa pertanyaan bodohnya.
“ Yaish! Paboya! Aku tidak memiliki kekasih Hyuk!” Aku menjitak kepalanya.
“ Appo, Lalu siapa yang sedang kau pikiirkan? Namja kah? Yoeja kah? Ayolaah ceritkan, aku penasaran”
“ Jika kau kesini hanya untuk memperberat pikiranku, lebih baik kau pergi darisini”
“ Oke-oke aku akan diam. Tapi mulailah bercerita Rin”
Aku membuang nafas sesaat.
“ Namanya Hongbin, dia seorang laki-laki yang kutemukan terkunci di sebuah ruangan di perpustakaan kota. Saat kutemukan tubuhnya sangat lemas. Karena tak tega, aku membawanya pulang kerumah. Sehari berada dirumahku, dia berprilaku aneh dan sekarang dia ada dirumah sakit” Aku mulai bercerita kepada Hyuk.
“ Aneh maksudmu?” Alis Hyuk turun tanda ia tak mengerti.
“ Dan ternyata dia terkena penyakit Skizofrenia, dia sering berhalusinasi sendiri seperti ada orang yang ingin membunuhnya. Kata uisa ia harus menjalani terapi dirumah sakit”
“ Masalahnya?” Hyuk masih setia mendengarkanku.
“ Masalahnya adalah aku tidak tau siapa dia sebenarnya, tempat tinggalnya, asal dia darimana, keluarganya, bahkan identitas yang ku tau dari dia hanya namanya saja” Sesaat hening menyelimuti atmosfer kita berdua.
“ Hmm bagaimana kalau aku membantumu mencari siapa dia sebenarnya?”
“ Caranya?”
“ Tadi kau bilang kau menemukannya di perpustakaan kota? Bagaimana kalau kita coba menanyakan kepada penjaga perpustakaan kota? Siapa tau dia mengetahuinya” Hyuk memberikan usul.
“ Tapi aku tak yakin kalau penjaga perpustakaan itu tau tentang Hongbin”
“ Tak ada salahnya mencoba kan?” Hyuk meyakinkanku akan idenya.
“ Baiklah, tapi janji kau akan membantuku kan?” Aku mengangkat jari kelingkingku.
“ Janji! Aku tak mungkin membiarkan sahabatku kalut dalam masalahnya kan?”  Hyuk menyambut jari kelingkingku tanda perjanjian kami.
“ Besok kita mulai, oke?”
“ Oke call!” Aku bersyukur memiliki Hyuk yang dapat membantuku kapan aku butuhkan. Meskipun ia kadang-kadang sering menjengkelkan. Tapi aku mencintainya, sebagai seorang sahabat tentunya.
Apakah Rin dan Hyuk akan menemukan siapa sebenarnya seorang Lee Hongbin? Lalu bagaimana dengan keadaan Hongbin? Akankah Ken menerima Hongbin secara utuh didalam keluarganya? Apakah Dokter Jung Taekwoon mampu menghadapi penyakit pasiennya yang termasuk penyakit ekstrim? Dan apakah arti senyuman seorang Kim Won Sik?
-TBC-