”Otokaji?”
Author : Diemond
Cast :
(VIXX member)
Cha Hakyeon
Jung Taekwoon
Lee Jaehwan
Kim Wonsik
Lee Hongbin
Han Sanghyuk
and Cha Shin Rin (oc)
Genre :
Psychology, Mistery, Thriller
(maybe)
Rating : PG
15
Summary : Jangan
bermain dengan nyawa!
Pernahkah kau
bayangkan betapa enaknya bersantai di hari minggu, hari dimana tak ada setumpuk
pekerjaan yang mengingatnya saja rasanya sudah bikin mual. hari dimana kau bisa
berjalan jalan bersama teman temanmu ataupun sekedar dirumah, dibawah selimut
yang hangat. Namun, sekarang buatku itu
hanyalah sebuah angan-angan, merasakan segarnya udara pagi pun aku tidak bisa,
bagaimana dengan menonton tv dan menyesap susu coklat? Oh... ayolah itu hanya
sebuah angan semata.
Sekarang aku
berada di tumpukan buku yang disusun rapi, yang setia menemaniku bermalam disini. Perpustakaan. Ya, aku bermalam disini. Demi tugas dari dosen
yang super duper menjengkelkan itu aku merelakan jatah hari mingguku diambil.
Dihadapanku
sekarang ada beberapa buku tebal. Mataku sampai sakit karna harus menatap layar
laptopku berjam-jam, bagaimana dengan wajahku? Jangan tanyakan itu, kantung
mata yang mengitam layaknya mata panda bertengger disana ditemani muka kusam
dan rambut berantakan. Akupun sampai bertanya pada diriku sendiri, apa aku
benar seorang wanita? Melihat kaca pun
aku tak tega, melihat refleksi bayanganku sendiri, pasti menyeramkan.
Ku regangkan
otot-ototku yang menegang. Kulihat sekarang sudah pukul 08:00 pagi, berarti aku
sudah 11 jam disini. Tapi tugas ini pun belum selesai semua, ingin rasanya
menjerit, namun apadaya, tugas ini harus ku selesaikan sebelum jam 12:00 siang
nanti, aku tak mau mencari masalah dengan nenek sihir itu jika terlambat
mengumpulkan tugas ini.
“ Aish.... kenapa tugas ini belum
selesai juga sih?” Ucapku frustasi. Aku kembali membuka-buka buku yang ada di
hadapanku. Materinya masih kurang,
pikirku. Saat ini aku sedang meresensi novel terbitan tahun 1800an. “Harus ada 5 novel dan saya tidak mau kau
hanya meng copy paste dari internet! Kalau sampai itu terjadi,
nilaimu akan saya kasih 0” Itulah
yang diucapkan si nenek sihir. Sedangkan aku baru meresensi 4 novel, tinggal 1
novel lagi. Tinggal tumpukan buku disudut ruangan yang belum terjamah olehku.
Akupun segera melesat kesana, siapa tau masih ada novel tahun 1800an yang bisa
aku resensi. Bukan hal mudah mencari novel terbitan lama, diperpustakaan
sebesar inipun hanya ada beberapa.
Mataku menelusuri
satu persatu deretan buku itu. Aku mengambil satu satu buku berjudul “Dr.
Jekyll and Mr. Hyde” lalu kubuka tahun terbitnya dan aku sangat bersyukur
sekali karna dewi fortuna
masih mempunyai belas kasihan untukku. Tahun yang tertera di novel tersebut adalah
tahun 1886, yang berarti memenuhi kriteria tugasku.
Tolong... tolong aku, siapapun tolong aku...
Aku seperti
mendengar suara rintihan minta tolong, bulu kudukku seketika berdiri, hawa di
pojok perpustakaan ini berubah.
Tolong... tolong aku, tolong....
Aku tidak
bermimpi. Itu suara orang meminta tolong. Entah keberanian darimana aku
beranikan diri mencari sumber suara. Dipaling ujung perpustakaan ini aku
melihat sebuah pintu kecil. Aku medekati pintu kecil itu, aku yakin ada orang
didalam sana, karena
suaranya semakin jelas saat aku mendekatinya.
Tolong... uhuk-uhuk, tolong...
Benar ada
orang didalam sana, aku mencoba membuka pintu itu. Terkunci. Ah, kenapa pintu
ini terkunci, aku gerak gerakan knop pintu sampai beberapa kali tetap tidak
bisa. Mengambil ancang ancang jauh aku berniat mendobrak pintu itu, nihil.
Tetap pintu itu tak bergeming, yang ada hanya lenganku yang sakit. Aku berfikir
sejenak, sampai ide cemerlang muncul diotakku.
“ Bertahanlah didalam, aku akan
segera kembali” Aku berbicara kepada orang yang didalam, entahlah dia
mendengarnya atau tidak. Buru-buru aku kembali ke tempat awal aku mengerjakan
tugas, mencari empat pensilku dan mengambil sebuah clip atau penjepit kertas. Semoga berhasil, pikirku. Dengan sigap
aku kembali ke pintu kecil itu berada.
Dengan cepat
aku meluruskan clip yang ada di tanganku, lalu kumasukkan ke dalam lubang
kunci. Ternayata ada gunanya juga film-film tentang pencurian yang ada di tv.
Buktinya, aku sekarang sedang mempraktekannya. Dengan satu dua gerakan memutar
kekanan dan kekiri. Clek. Pintu pun terbuka, sepertinya aku memang berbakat
menjadi pencuri seperti ini hahaha. Kusingkirkan kebahagiaanku, lalu aku
langsung masuk kedalam ruangan itu. Kulihat sesosok pria berpakaian hitam
tengah tertidur didalam sana, kupegang tangannya dan mengecek nadinya,
syukurlah dia masih hidup. Tubuhnya dingin sekali, wajahnya pucat, ada beberapa
memar di beberapa bagian tubuhnya, disudut bibirnya pun terdapat darah yang
sudah mengering.
“ Hai kau masih bisa mendengarku?
Katakan sesuatu, aku telah menolongmu” Aku berusaha berkomunikasi dengannya.
Kutepuk-tepuk pipinya. Perlahan matanya terbuka, bisa kurasakan tangannya
menggenggam tanganku, tatapannya nanar.
“ Tolong... keluarkan aku dari
sini, aku sudah tidak tahan” Jawabnya parau.
“ Tenanglah, aku telah menolongmu,
ayo kita keluar dari sini” Titahku.
Aku membantunya untu keluar dari ruang
sempitnya. Sampai diluar, aku mengajaknya duduk ditempat aku mengerjakan tugas
tadi. Tak lupa kuberikan mantel tebalku padanya, mengingat tubuhnya sangat
dingin saat ku sentuh tadi.
Beruntung
diperpustakaan ini belum banyak orang yang datang, jadi aku tidak perlu
khawatir akan tatapan orang yang menganggap “aku melakukan hal-hal aneh pada
pria ini”.
Segudang
pertanyaan menumpuk diotakku, bagaimana
dia bisa berada didalam sana? Kenapa tubuhnya penuh luka? Atau mengapa pintu
itu terkunci dari luar? Mulutku sudah gatal ingin meluapkan semuanya, namun
aku tahan, aku tak tega melihatnya. Sekarang ia tertidur dengan kepala bertumpu
pada buku yang bergelut denganku semalaman. Ia memejamkan matanya, keningnya
berkerut seperti menahan rasa sakit. Iba melihat darah kering disudut bibirnya,
akupun berniat membersihkan darah itu menggunakan tissue basah yang kuambil
dari ranselku. Pelan-pelan kubersihkan darah itu dari sudut bibirnya, keningnya
kembali mengkerut tatkala menahan sakit.
“ Aww..”
“ Ahh mian aku membangunkanmu”
“ Gwenchana, terima kasih kau mau
menolongku” Jawabnya, sungguh, siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa
iba.
“ Ne... Oh iya, namaku Cha Shin
Rin, namamu?” Aku mengulurkan tanganku.
“Aku... Lee Hongbin imnida” Diapun
menjabat tanganku.
Dilihat lebih
dalam lagi, Hongbin ternyata sangat tampan, manik matanya sungguh mempesona
ditambah garis wajahnya yang tegas. Dalam keadaan seperti ini saja wajahnya
masih terlihat tampan. Tak terasa aku menatapnya begitu lama, mengagumi setiap
inci wajahnya. Sampai sebuah deheman menyadarkanku. Bodoh kau Shin Rin! Sungguh bodoh! Mengapa kau begitu lama menatapnya,
sampai-sampai orang yang ditatap merasakannya.
“ Hmm... ngomong-ngomong kenapa
kau bisa terkunci didalam sana?” Aku memulai obrolanku.
“ Aku juga tidak tau, tiba-tiba
aku sudah berada didalam sana, sekarang dimana aku?” Dia memperhatikan
sekelilingnya.
“ Kau ada di perpustaakaan kota.
Lalu dimana kau tinggal?” Aku ingin menggali informasi lebih dalam tentangnya.
“ Tempat tinggal? Dimana? Sungguh
aku tidak mengingatnya. Aku tidak mengingat apa-apa, kecuali namaku, Lee
Hongbin” Ia seperti sedang mengingat-ngingat apa yang terjadi, namun sepertinya
ia kehilangan ingatannya. Buktinya, ia hanya tau namanya saja.
“ Ah, kau tidak mengingatnya?
Tidak apa-apa, mungkin ingatanmu akan pulih kembali seiring berjalannya waktu” hey sejak kapan kau sok tau seperti ini Cha
Shin Rin” Lalu, kau akan kemana setelah ini?”
“ Aku tidak tau” Hongbin
menggelengkan kepalanya.
Shin Rin bodoh. Mengapa kau bernyata perntanyaan bodoh seperti itu.
Runtukku kesal
“ Bagaimana kalau kau ikut
kerumahku? Aku tak tega melihat lukamu itu, nanti akan aku obati sesampainya
dirumah, lagi pula kau juga tidak tau harus kemana kan?”
“ Kerumahmu? Tidak apa-apa?
Tapikan kita baru saja kenal” Jawabnya ragu.
“ Gwenchana, aku tau, kau bukan
orang jahat” Sesaat aku melupakan tugasku yang belum terselesaikan. Persetan
dengan tugas itu.
“ Kau sungguh baik, terima kasih”
Hongbin tersenyum. Tuhan... senyumannya sungguh indah, siapapun yang melihatnya
pasti akan jatuh hati dengan senyumannya. Dimple nya yang dalam menambah
kesempurnaan wajahnya.
“ Ayo ikut aku, kita kerumahku
sekarang”
Akupun segera
merapihkan tasku, memasukan kertas ketas gila itu dan notebook berwarna ungu
hadiah dari kakakku. Aku berjalan keluar perpustakaan sambil memapahnya, karena
kulihat ia berjalan sedikit terseok dan akhirnya aku membantunya berjalan.
Kuhiraukan tatapan penjaga perpustakaan yang melihatku dengan tatapan aneh. Aku
berjalan menuju parkiran tempat aku memarkirkan mobilku.
Jalanan kota
seoul sedang lengang, maklum hari minggu. Orang-orang biasanya memanfaatkan
untuk berolahraga daripada berkendara.
Sesampainya
dirumah aku langsung turun dan tak lupa membantu hongbin turun dari mobil.
Ting nong Ting nong
Aku menekan
bel rumahku. Semoga saja kakakku sudah bangun dari tidurnya. Tak lama muncul
sesosok pria dengan baju sleveless dan celana pendek yang tak lain adalah
kakakku, ken.
“ Rin... kau sudah pulang, Nugu?”
Kakakku heran melihatku memapah orang asing.
“ Hongbin imnida” Hongbin
menunduk memberi hormat.
“ Nanti saja ku ceritakan oppa,
biarkan kami masuk dulu” Akupun melesat masuk kedalam rumah. Kakakku masih
heran melihat kami berdua.
…………………..
“ Rin… siapa laki-laki yang kau bawa tadi?”
“ Ah,dia? Aku juga baru bertemu dia diperpustakaan kota tadi” Kataku santai. Mataku masih menatap layar tv.
“ YA!!!
Kau sudah gila, eoh? Kenapa kau bawa orang asing kerumah ini? Kalau dia ada niat jahat bagaimana?” Cerca kakakku sarkastik.
Beginilah kakakku, Manusia super duper bawel dirumah ini.
“ YAYAYA!! Ada suara ribut rebut apa ini?” Belum selesai masalah yang satu, sudah ditambah masalah lainnya.
Kakak tertuaku ikut bergabung dengan kami.
Jangan harap dia bisa
membantuku, karena mereka berdua lebih sering bersekongkol untuk menjatuhkanku.
“ Ayolaah oppa, bukannya kau juga sering membawa gadis-gadis itu kerumah ini? Tanpa sepengetahuan Hak Yeon oppa?”
“YA!! Benarkah itu ken? Kau sering membawa gadis kerumah ini tanpa sepengetahuanku?” Sudah dipastikan akibat perkataan kutadi, Ken oppa dan Hak Yeon oppa akan betengkar. Rasakan itu Ken oppa, sekarang aku yang menang. Aku menatap Ken oppa dengan penuh kemenangan.
“ Ah… Itu..itu.. mereka
hanya temanku,
tak lebih, sumpah!” Ken oppa melemparkan tatapan lihat-nanti-kau-akan-mati-ditangan-ku.
Sebelum aku menyaksikan peperangan ini, aku melarikan diri menuju kamar tamu. Tempat Hongbin beristirahat. Terdengar
Ken oppa memanggil namaku, namun tak kugubris sama sekali.
KREEET
Kulihat Hongbin masih menutup matanya. Untung tadi aku sudah mengobati lukanya. Melihatnya seperti itu, layaknya melihat bayi yang
sedang tidur dipangkuan sang ibu, damai sekali.
“ Mau sampai kapan kau memandanginya seperti itu?” Sebuah suara bisikan hamper saja membuat aku berteriak. Untung saja aku masih bisa
menahannya.
“ Ya! Oppa apa yang kau
lakukan? Kalau aku berteriak dan dia bangun bagaimana?” Jawabku berbisik sambil menunjuk Hongbin
yang masih tertidur.
“ Biarkan saja, toh dia bukan siapa-siapa” Hak Yeon oppa menjawab dengan santainya.
Kedua kakakku memang tak ada yang beres. Tapi dibandingkan dengan Ken
oppa, tingkat kewarasannya lebih baik Hak Yeon oppa. Karena Hak Yeon oppa merupakan kakak tertua kami. Semenjak orangtua kami pindah ke Jepang. Aku tinggal bersama mereka. Sebenarnya aku tak ingin tinggal bersama mereka,
lebih baik tinggal di apartemen sendiri, tapi orang tuaku tak mengizinkannya. Dengan terpaksa aku harus tinggal disini bersama mahluk-mahluk itu.
Hak Yeon oppa menarik tangan kumenjauh dari kamar tamu menuju taman belakang rumah kami.
“ Siapa laki-lakiitu, Rin?” Pertanyaan itu muncul lagi.
“ Akutidak tau oppa, aku menemukannya di Perpustakaan kota tadi pagi” Entah harus berapa kali
aku harus mengatakan kalimat ini.
“ Maksudmu menemukannya?” Hak Yeon oppa mulai penasaran.
“ Iya, tadi aku menemukannya
terkunci di sebuah pintu kecil di
ujung rak Perpustakaan kota”
“ Apa? Aku tidak mengerti apa yang kau
katakana Rin”
Aku mulai mencerikan awal aku bertemu dengan Hongbin. Semuanya aku ceritakan padanya, tak
ada yang kurang atau pun kulebih-lebihkan. Namun hanya kerutan di dahinya yang kudapatkan, entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang aku
ceritakan.
“ Kau mengerti tidak dengan yang
kuceritakan oppa?”
“ Ah, aku tidak mengerti apa yang
kau katakan Rin. Mana ada orang yang terkunci didalam perpustakaan dan tak ada
yang mengetahuinya? Atau jangan jangan dia...” Hak Yeon oppa menggantungkan
kalimatnya.
“ Jangan berfikir kau dia itu
hantu oppa, kalaupun dia hantu, mana mungkin kau dan Ken oppa bisa melihatnya,
dan juga mana mungkin dia merintih kesakitan seperti itu, dasar pabo!” Ujar ku
geram karna pikiran pendek kakakku yang satu ini.
“ Dasar dongsaeng kurang ajar.
Semoga saja nanti dia tidak menghilang tiba-tiba, atau mungkin dia akan masuk
ke kamarmu dan mencekikmu sampai kau tak bisa bernafas lagi dan...”
“ CUKUP OPPA!!!!” Aku berteriak
untuk menhentikan ocehannya yang tidak jelas itu. Sebenarnya aku sempat
berfikir apa benar yang dikatakan Hak Yeon oppa, namun firasat itu ku buang
jauh-jauh. Semuanya aman Rin, tidak ada
yang perlu kau takutkan! Hongbin itu manusia! Tadi kau menyentuhnya dan dia
nyata Rin! Ayolah... Jangan terpengaruh omongan gila kakakmu itu, batinku.
…………………..
“ Non, ada telpon buat non” Bibi
Seung -pembantu kami- datang sambil membawa telpon rumah ditangannya. Saat ini
aku sedang dikamarku, menatap langit-langit dan tak tau apa yang harus
kulakukan.
“ Dari siapa bi?”
“ Katanya dari teman non
dikampus”
“ Temanku? Ah baiklah, terima
kasih bi” Aku langsung mengambil telpon dari gengaman Bibi Seung.
“ Yeoboseo?”
“ Shin Rin... Ini aku Hyuk. Bagaimana
tugasmu? Apa sudah selesai? Aku ingin mengajakmu mengumpulkan tugas ini”
Jedarrr, bagai petir diteriknya matahari, aku mengingat sesuatu. TUGASKU BELUM
SELESAI. Bagaimana ini, kalau aku tidak mengumpulkannya sudah dipastikan aku
akan mendapat nilai nol dari dosen creepy itu.
“ YAA! Cha Shin Rin, Kau
mendengarku tidak? Jangan-jangan kau belum mengerjakan tugasmu itu? Lebih parah
lagi, atau kau lupa mengerjakannya Rin?” Cerca Hyuk di ujung telpon sana.
“ YAA! Pelankan suaramu! Aku
tidak mau tuli mendadak mendengar suaramu itu pabo! Aku sudah mengerjakannya,
tapi... masih kurang satu resensi lagi”
“ Shin Rin pabo! Cepat
selesaikan! Ini sudah pukul 11:20, tenggat waktunya pukul 12:00 siang nanti,
dan kau tau jarak rumah ke kampus kita memakan waktu 30 menit? Jadi kau hanya
punya waktu 10 menit untuk menyelesaikannya, palli!!” Suara Hyuk terdengar
lebih khawatir dibanding denganku. Maklum saja, dia sudah menjadi sahabatku
sejak kami duduk di elementary school, dan juga rumah kami tak berjauhan. Hanya
beberapa blok dari rumahku.
“ Ah kau benar Hyuk, kalau gitu
sampai nanti, aku akan menyelesaikannya secepatnya, annyeong” Tut. Aku
mematikan sambungan telponku dengan Hyuk. Secepat kilat aku membuka laptopku
dan mencari novel berjudul Dr. Jekyll and Mr. Hyde, untung tadi aku masih
mengingatnya. Persetanlah, jika dosen aneh itu mengetahui jika aku meng copy
paste resensi novel ini dari internet, toh dia juga tak akan mengetahuinya
karena akan ‘tertutup’ dengan keempat novel yang aku resensi sendiri -hasil
bermalamku di perpustakaan itu tentunya-. Kulirik jam di meja nakasku, pukul
11:00. Tepat sasaran, tugasku sudah selesai, tinggal mengumpulkannya saja ke
dosen itu.
Terdengar
suara klakson mobil dari luar rumahku. Itu pasti Hyuk. Dia memang sering
mengajakku pergi bersama ke kampus. Padahal aku juga bisa sendiri membawa
mobilku, tapi dia selalu beralasan jika ia kesepian jika menyetir mobil
sendirian (?). Memang pria aneh.
“ Sudah kau selesaikan tugasmu
tuan putri?” Kata-kata itu menyambutku tatkala aku memasuki mobilnya.
“ Ne, semuanya sudah beres
sekarang. Gomawo Hyuk kau sudah mengingatkanku. Jika kau tadi tak menelpon ku,
sudah dipastikan aku akan ditelan hidup-hidup oleh dosen itu” Aku tersenyum
sebagai tanda terima kasih kepadanya.
“ Aku memang pahlawanmu sampai
kapanpun Rin” Hyuk membusungkan dadanya, tanda kalau ia memang selalu aku
butuhkan.
“ Terserah apa katamu lah Hyuk.
Ayo sekarang kita berangkat. Kau tak mau telat kan?”
“ Kajja! Let’s go” Mobilpun
melesat menuju kampus kami.
…………………..
Hongbin pov
Kepalaku sakit
sekali. Sekujur tubuhku pun merasakan hal yang sama. Pelan-pelan aku membuka
kedua kelopak mataku. Dimana ini? Apa aku
sudah mati? Tapi sepertinya belum, meskipun ruangan ini di dominasi warna
putih, namun ini bukan disurga. Aaa aku masih hidup. Aku ingat, tadi aku
ditolng oleh seorang gadis, Park Shin Rin. Gadis baik hati yang mau menolongku.
Tapi... kenapa aku ditolongnya? Memangnya
aku kenapa? Kenapa aku berpakaian serba hitam seperti ini? Pikiran itu
berkecamuk di dalam otakku. Sungguh, aku tidak mengingat apapun, kecuali
kejadian hari ini. Ada apa dengan diriku?. Kembali segudang pertanyaan di
otakku berkecamuk meminta pertanggung jawaban.
KREEET
Pintu ruangan
yang disebut kamar ini terbuka. Munculah sesosok namja berkulit tan dari balik
pintu tersebut.
“ Kau sudah siuman rupanya?” Dia
bertanya sambil berjalan mendekatiku.
“ Ne, maaf aku merepotkanmu” Aku
merasa tak enak dengan orang ini.
“ Tak apa, kalau boleh tau siapa
namamu?” Dia bertanya dengan sangat ramah kepadaku.
“ Lee Hongbin imnida”
“ Kau berasal darimana? Kata
dongsaengku kau ditemukan terkunci di sebuah pintu dalam perpustakaan?Bagaimana bisa? Ah iya
kenalkan, aku Cha Hak Yeon, kakak tertua dari Cha Shin Rin”
“ Bangapseumnida. Masalah itu...
Aku juga tak tau kenapa itu bisa terjadi. Aku tak mengingat apapun. Yang ku
ingat hanyalah namaku dan kejadian tadi, saat adikmu menolongku”
“ Kau hilang ingatan maksudmu?”
Muncul namja berambut agak ikal berwarna coklat muda dari balik pintu. Dia
menatapku seolah dia tak suka kepadaku.
“ Ah kenalkan ini Cha Jae Hwan,
pangil saja dia Ken Hyung. Kakak kedua Shin Rin, kami tiga bersaudara” Cukup
detail Hak Yeon-ssi mengenalkan keluarganya kepadaku”
“ Annyeong haseo, Lee hongbin
imnida” aku kembali memperkenalkan diriku.
“ Aku sudah tau namamu. Sekarang
jawab pertanyaanku” Orang ini tak suka
kepadaku, batinku.
“ Apa kau benar-benar kehilangan
ingatanmu?” Sekali lagi ia bertanya kepadaku dengan nada agak sedikit ketus.
“ Cha Jae Hwan! Aku tak pernah
mengajarkanmu untuk tidak sopan kepada orang yang baru kau kenal” Omel Hak
Yeon.
“ Tapi hyung, dia itu siapa?
Kenapa seenaknya Rin membawanya kesini? Atau jangan-jangan dia hanya
berpura-pura hilang ingatan dan akan berbuat jahat kepada kita?”
Telingaku
panas mendengarnya. Jika aku tidak dalam keadaan ‘mengenaskan’ seperti ini.
Sudah pasti aku akan keluar dari sini. Tapi posisiku terdesak. Aku tak ingat
apapun. Hanya Shin Rin. Sekali lagi hanya Shin Rin yang ada dalam ingatanku.
“ Cha Jae Hwan! Jaga perkataanmu,
keluar kau dari sini. Atau kau akan ku hukum!” Terlihat pancaran kemarahan dari
Hak Yeon.
“ AAH hyung kau menjengkelkan!”
BRAAK
Jae
Hwan keluar dari kamar ini, tentu dengan dobrakan pintu yang memekikkan
telinga.
“ Mian, Maafkan kelakuan
dongsaengku yang satu itu” Tulus Hak Yeon meminta maaf kepadaku.
“ Gwenchana, Hak Yeon-ssi. Aku
mengerti perasaannya”
“ Bagaimana keadaanmu? Sudah
merasa baikan?”
“ Kepalaku masih terasa berat,
mungkin sedikit beristirahat akan mengembalikan keadaanku”
“Mau kupanggilkan dokter?
Sepertinya kondisimu tak layak jika dikatakan sehat” Dengan luka memar
disekujur tubuh dan juga luka disudut bibirku sudah dipastikan kondisiku jauh
dari kata sehat.
“ Tak perlu Hak Yeon-ssi, aku
sudah banyak merepotkanmu. Gomawo kau sudah mau menerimaku disini”
“ Gwenchana. Bukankah setiap
manusia harus saling tolong menolong?. Dan kulihat kau memang orang baik
Hongbin” Ternyata kebaikan hati Hak Yeon memang sama dengan Shin Rin. “ Ahh
satu lagi, panggil saja aku hyung. Formal sekali jika kau memanggilku seperti
itu”
“ Baiklah hyung, sekali lagi
gomawo” Aku tersenyum, tanda terima kasihku kepadanya.
“ Istirahatlah, aku akan
menyiapkan makan siang” Hak Yeon hyung berlalu meninggalkanku dikamar ini.
“ Ne hyung”
Terdengar
suara pintu ditutup, tanda Hak Yeon hyung telah keluar. Aku sangat berterima
kasih kepada keluarga ini yang mau menerimaku. Meskipun mereka tak tau latar
belakangku, namun aku diterima dengan sangat baik disini. Yah... meskipun kutau
Ken Hyung tak bisa menerima kehadiranku seutuhnya.
…………………..
Shin Rin pov
“ Ken oppa, Hak Yeon oppa...” Aku
mencari kedua oppa ku sambil meneriakan nama mereka. Namun nihil, tak ada yang
menjawab. Justru Bibi Seung yang datang menghampiriku.
“ Bibi Seung, Ken oppa dan Hak
Yeon oppa dimana?” Aku seraya bertanya ke Bibi Seung. Tidak biasanya hari libur
seperti ini mereka keluar rumah. Biasa mereka akan menghabiskan libur mereka
dengan bermalas malasan dirumah.
“ Tuan Ken dan Tuan Hak Yeon
sedang menghadiri acara pernikahan tetangga sebelah Non”
“ Ohh begitu...” Aku hanya ber-oh
ria.
PRAANG
Terdengar
suara benda pecah. Sepertinya berasal dari kamar tamu. Aku mengingat-ingat. Oh
Tuhan, jangan sampai terjadi. Aku berlari menuju kamar tamu, disusul Bibi Seung
dari belakang.
Sungguh
aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku tak menyangka ini akan terjadi.
Hongbin menghancurkan apapun yang ada di dalam kamar ini. Vas bunga, kursi,
bahkan kaca dikamar ini dihancurkan semuanya. Dan jika kau melihat adegan
selanjutnya kau akan berteriak histeris. Hongbin ingin mencelakai dirinya
sendiri dengan menyayat nadinya menggunakan pecahan kaca yang ia pecahkan.
Sontak aku menghampirinya. Aku abaikan panggilan Bibi Seung yang memanggil
namaku atau kata-kata jangan mendekat. Kuabaikan ketakutanku, dipikiranku saat
ini, Usaha Hongbin harus dihentikan. Kubuang jauh-jauh pecahan kaca tadi dari
tangan Hongbin. Sialnya, tanganku terluka terkena sayatannya. Aku tak mau rumah
ini dimasuki pria-pria berseragam lengkap dengan senjata dan dengan dibantu
ahli forensik karena menemukan seseorang bunuh diri dengan memotong urat
nadinya. Jangan sampai itu terjadi.
“ HONGBIN! APA YANG KAU LAKUKAN?
KAU AKAN TERLUKA! HONGBIN SADARLAH!” Aku menepuk nepuk kedua tanganku
dipipinya. Kulihat tatapan matanya penuh dengan ketakutan, ketakutan yang luar
biasa. Seperti melihat mahluk yang mengerikan -itulah yang kulihat-.
“ PERGI KAU! PERGI! JANGAN
MENDEKAT, PERGIIIII!” Hongbin menceracau tak jelas. Aku tau kalimat itu bukan
ditunjukkan untukku, karena kedua manik mata Hongbin sedang tak menatap
kearahku. Tapi kearah lainnya, entah apa yang ia lihat.
“ HONGBIN! TATAP MATAKU! APA YANG
KAU LAKUKAN EOH? ADA APA DENGANMU LEE HONGBIN?” Aku berteriak untuk
menyadarkannya. Aku berusaha mempertemukan kedua manik mata Hongbin dengan
mataku. Sedikit paksaan, akhirnya Hongbin menatapku. Perlahan-lahat bayangan
ketakutan Hongbin memudar. Bisa dilihat, sekarang ia sedang memelukku,
menumpahkan seluruh airmatanya di pundakku.
“ Gwenchana, aku ada disini,
tenanglah” Aku berusaha menenangkannya. Kuusap-usap pucuk kepalanya. Tubuhnya
bergetar, ia mencengkram bahuku agak keras. Sakit, tapi aku berusaha
memakluminya.
“ Mianhaeyo Shin Rin. Maafkan
aku. A-a-ku a-ku...” Hongbin berbicara dengan terbata-bata.
“ Sttt... Sudah tak apa, tenangkan
dirimu. Ayo kita keluar dari sini” Aku membantu Hongbin keluar dari kamar ini.
“ Bibi Seung, Tolong bersihkan ruangan ini, aku akan mengurus Hongbin” Kataku
sebelum aku meninggalkan kamar ini. Bibi
Seung hanya mengangguk. Mungkin ia masih shock dengan apa yang terjadi.
Aku
membawa Hongbin keruang tamu. Tubuhnya masih bergetar. Kuselimuti tubuh Honbing
dengan selimut. Aku berlari ke dapur untuk mengambil secangkir air putih.
“ Hongbin, minumlah” aku
menyerahkan segelas air putih kepada Hongbin. Hongbin segera menghabiskan air
itu. Tetap saja tubuhnya masih bergetar. Aku mencoba merapatkan selimut yang
ada ditubuhnya, seketika Hongbin kembali memelukku pelukannya sangat kuat,
seakan-akan aku akan pergi meninggalkannya jauh. Jujur saja, aku agak sedikit
tak nyaman dipeluk seperti ini. Alasannya? Ayolah aku baru bertemu hari ini
dengannya kamipun belum mengenal satu sama lain hanya sekedar nama saja. Semoga Hongbin lebih baik, hanya itu
yang aku pikirkan.
Author pov
Ketika Rin
berada di pelukan Hongbin, tanpa disangka-sangka, kedua kakak Rin sudah pulang
dari pesta. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat. Dongsaeng mereka
sedang berpelukan dengan laki-laki asing yang tak lain adalah Hongbin.
“ Mwohaneungeoya?” Sang kakak
kedua langsung bersuara tatkala melihat pemandangan itu.
“ Aish... bisakah kau mengecilkan
suaramu Ken oppa? Dia sepertinya tertidur” Jawab sang adik dengan santainya. “
Hak Yeon oppa, bisakan kamu membantuku membaringkan Hongbin?” Pinta sang
dongsaeng. Sang kakak dengan sigap membantu adik bungsunya tersebut. Hati-hati
ia membaringkan Hongbin di sofa.
Sang kakak
kedua sebut saja Ken hanya memandang kedua saudaranya dengan tatapan jengkel.
“ Rin! Aku menunggu penjelasanmu”
Ken dengan tidak sabar langsung bertanya kepada Rin apa yang sedang terjadi.
Bagi Ken semuanya harus jelas.
“ Katakan Rin, kenapa kau bisa
berada di pelukan Hongbin? Sampai Hongbin tertidur pula” Hak Yeon juga menuntut
penjelasan dongsaengnya itu.
“ Hhhh... Aku juga tak tau kenapa
seperti ini, kau tau oppa? Waktu aku pulang dari kampus aku medapati Hongbin
ingin Bunuh diri!” Ada nada iba dalam suara Shin Rin
“ Maksudmu? Orang aneh itu mau
bunuh diri? Dirumah ini? Oh... dia memang laki-laki gila, aku yakin” Kata Ken
kesal sambil melirik Hongbin yang tengah tertidur.
“ Dia bukan orang gila oppa,
namanya Hongbin oppa” Shin Rin bersabar menghadapi kelakuan oppanya yang satu
ini.
“ Rin, sadarlah, kau saja hanya
tau namanya. Siapa dia sebenarnya kau tidak tau kan?” Ken mulai tersulut emosinya mendengar jawaban
dari mulut dongsaengnya.
“ Sudah-sudah, sekarang sudah
malam, tak pantas bertengkar. Aku tak mau tetangga mendengar kalian ribut,
apalagi sampai terusik karena kalian. Besok saja kita lanjutkan. Sekarang Ken,
bantu aku memindahkan Hongbin ke kamarnya” Perintah Hak Yeon dengan bijak.
Saat-saat seperti ini hanya Hak Yeon yang bisa jadi penengah.
“ Hyung!!! Yang benar saja! Masa
aku harus memindahkan raksasa ini” Jawab Ken. Memang jika dilihat tubuh Ken
lebih kecil dengan tubuh Hongbin, begitupun dengan tubuh Hak Yeon.
“ Tidak ada bantahan Cha Hak
Yeon” Bagaimanapun Ken menyatakan ketidak setujuannya, pada akhirnya ia akan
menurut dengan apa yang dikatakan Hak Yeon.
Mereka
berdua pun menggotong Hongbin ke dalam kamar. Tentunya dengan kamar yang sudah
rapi. Dengan hati-hati Ken dan Hak Yeon menidurkan Hongbin di ranjang king size
itu. Tak lupa Shin Rin menyelimuti tubuh hongbin dengan bed cover tebal.
Mereka
bertiga keluar meninggalkan Hongbin sendiri dikamarnya -kamar tamu sudah
menjadi kamar Hongbin sekarang-.
“ Sekarang kalian pergi tidur,
besok kita lanjutkan lagi, jaljayo” Hak Yeon menitah Ken dan Shin Rin menuju
kamarnya masing-masing.
“ Ne... oppa, jalja”
“ Ne...”
Ken
dan Shin Rin bergegas masuk kekamar mereka masing-masing. Terbersit dipikiran
Shin Rin. Apa yang sedang terjadi dengan Hongbin. Kenapa Hongbin bersikap sepertiitu?
Ada apa dengannya. Tapi hanya bisa dipendam sendiri oleh Shin Rin. Hari ini Shin
Rin mengalami hari yang sangat aneh, pikirnya.
…………………..
Shin
Rin pov
Pagi ini udara di Kota Seoul sedang tidak mendukung. Padahal hari ini hari
ini hari Senin. Hari dimana semua aktifitas dimulai. Suara air hujan yang menghantam atap rumah membangunkan ku pagi ini. Ah…
kepalaku sedikit pusing. Kejadian semalam kembali terngiang dikepaku. Itu salah satu hal yang membuat kepalaku sedikit berdenyut saat ini.
Aku penasaran bagaimana keadaan Hongbin saat ini. Langsung saja aku bergegas kekamar Hongbin. Belum
aku menginjakkan
kakiku keluar dari sini. Suara memekakkan telinga sudah terdengar dari luar.
“ RIIIIN!! IRONAAA, PALLI!” Itu suara Ken
oppa, suara yang
melengking sudah pasti itu suara milik Ken oppa.
“ YAA!! Jangan berteriak oppa, aku sudah bangun dari tadi!”Kataku
tak kalah keras dari suara oppa. Sudah dipastikan suara ku dan Ken
oppa terdengar keseluruh rumah ini.
“ Dasar pemalas, kau
ini seorang wanita,
kenapa bisa semalas ini” Jika kau tau,
Ken oppa lebih bawel daripada ibu dimana pun. Bahkan, ibuku sendiri kalah darinya.
“ Ken oppa bawel!” Aku menjulurkan lidah saat aku meliahat Ken
oppa. Aku berlari
meninggalkannya dan bergegas ke kamar Hongbin. Sekedar mengecek keadaannya.
“ Hongbin… Apa kau sudah bai… Ya! Hongbin kau kenapa?”Apa yang kulihat saat ini? Oh tidak, tidak lagi untuk sekarang ini Hongbin. Keadaanmu semalam saja sudah membuat kepalaku berdenyut.
Aku melihat Hongbin tengah meringkuk di pojok ruangan dengan kedua tangan memengang kakinya. Ia
menunduk. Sepertinya ia sedang menangis,
tubuhnya terlihat bergetar. Kutatap matanya, kosong. Persis seperti semalam.
“ HAK YEON OPPA, KEN OPPA, BANTU AKU!” Aku berteriak meminta bantuan kepada kedua kakakku. Sontak mereka langsung menghampiri suaraku.
“ YA! Shin Rin ada apa dengan Hongbin? Kenapa dia seperti ini?”Hak Yeon oppa buru-buru membantu Hongbin untuk duduk di
atas kasur. Tubuh Hongbin berkeringat. Padahal hari ini sedang hujan diluar.
“ Rin, kenapa lagi dia?” Ken oppa menanyakan hal yang
sama.
“ Molla, aku tidak tau, tadi sewaktu
aku masuk kekamar ini, Hongbin
sudah seperti ini”
Jawabku sekenanya. Jujur saja aku juga kaget melihat Hongbin seperti ini.
“ Hongbin! Tatapaku! Ada apa denganmu?” Hak Yeon oppa bertanya kepada Hongbin mengenaisikapnya.
“ Tolong…Jangan bunuh aku, a-ak-aku tidak bersalah,
kumohon jangan membunuhku” Lagi-lagi Hongbin meracau tidak jelas.
“ Jongshincharyo Lee Hongbin! Ini aku HakYeon!
Mana mungkin aku membunuhmu, sadarlah!” Hak Yeon oppa berusaha mengembalikan kesadaran Hongbin
yang melayang entah kemana.“Hongbin! Tatap hyungmu!” Hak Yeon oppa memaksa Hongbin untuk menatapnya. Berhasil. Kedua manic mereka bertemu. Racauan Hongbin pun sudah tak terdengar,
hanya ada suara tangisan yang keluar dari mulutnya.
“ Hyung, sebaiknya kita membawanya kedokter, sepertinya dia tidak sehat” Ken
oppa memberikan solusi yang cemerlang. Meskipun aku tau,
Ken oppa tidak terlalu menyukai Hongbin sejak ia berada disini. Tapi
bisa kulihat ada raut khawatir di wajahnya saat ini.
“ Ne oppa, kita bawa dia kedokter saja. Aku akan menyiapkan mobil”
…………………..
Author pov
Pagi itu
menjadi pagi yang tidak mengenakan untuk Shin Rin, bagaimana tidak? Pagi ini ia
sudah dipaksa untuk pergi ke tempat yang didominasi warna putih ini, tentunya
untuk mengantarkan Hongbin. Rumah Sakit. Tempat yang paling dibenci Shin Rin,
karena disini banyak sekali orang yang tidak berdaya diatas ranjang. Shin Rin
tidak tega melihat mereka terbaring lemah disana, itulah alasan kenapa Shin Rin
tidak menyukai Rumah Sakit.
Seorang pria
memakai jas berwarna putih dan stetoskop yang bertengger dilehernya keluar dari
ruang UGD. Dr. Kim Won Sik. Nama yang tertera di nametag yang ia kenakan.
“ Dok, bagaimana keadaan Hongbin
dok?” Hak Yeon sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Hongbin.
“ Apakah kalian keluarga dari
pasien?”
“ Saya Hyungnya dok” Jawab Hak
Yeon asal. Tidak mungkin kan, Hak Yeon mengatakan bahwa Hongbin hanyalah anak
yang ‘dipungut’ oleh dongsaeng tercintanya.
“ Pasien saat ini dalam tak
sadarkan diri, karena tadi kami memberikan dia obat penenang. Sepertinya pasien
mengalami sedikit gangguan dalam otaknya, sedaritadi pasien bergumam tidak
jelas seperti sedang berhalusinas” Jawaban yang dokter ini berikan sama dengan
apa yang terjadi semalam.
“ Apa penyakitnya berbahaya
dok?”Tanya Shin Rin dengan nada khawatir.
“ Kami belum bisa memastikan
penyakit apa yang dialami pasien, saya akan memanggil Dokter bagian Saraf dan
Psikologi untuk mengecek apa yang dialami pasien. Untuk sementara pasien sudah
bisa pindah ke ruang inap” Ujar sang Dokter. “ Anda sudah bisa mengurus
administrasinya sekarang”
“ Baiklah dok kalau begitu terima
kasih”
Hak
Yeon menuju ruang administrasi untuk mengurus perawatan Hongbin. Sedangkan Shin
Rin hanya bisa tergolek lemas di bangku pengunjung Rumah Sakit. Ia tak habis
pikir semua ini akan terjadi. Baginya ini sebuah mimpi, mimpi yang menakutnya.
“ Rin, everything will be alright,
aku yakin” Ken memeluk dongsaeng kecilnya. Ken juga khawatir dengan Hongbin,
tapi ia tak mau memperlihatkannya kepada dongsaengnya.
“ Oppa... maafkan aku, tak
seharusnya aku membawa Hongbin kerumah dan membuat kalian repot seperti ini.
Sungguh aku tak tau jika akan terjadi hal seperti ini” Shin Rin tak kuasa
menahan air matanya. Ia merasa bersalah kepada kedua kakaknya.
“ Ini bukan salahmu Rin, jika kau
tak membawa Hongbin kerumah, mungkin sekarang ia sudah kehilangan nyawanya. Kau
pahlawan Rin, kau membantu orang lain yang membutuhkan. Memang awalnya aku tak
suka melihat dia dirumah, tapi kusingkirkan keegoisanku, karena ku tau ia
membutuhkan kita” Ujar Ken panjang lebar. Inilah sosok Ken sebenarnya, sosok
yang penyayang. Dibalik omelan-omelannya yang membuat telinga berdengung,
hatinya sangatlah baik.
“ Gomawo oppa, kalian memang
kakakku yang paling baik” Shin Rin tersenyum, air matanya mengalir dipipi
pinknya.
“ Uljima... Kita membantu Hongbin
sama-sama, Ne?” Ken menghapus bulir-bulir bening yang mengalir di pipi adiknya.
“ Ne oppa” Shin Rin memeluk sang
kakak dengan lembut. Terima kasih Tuhan,
kau memberika kedua kakak yang sangat baik padaku, Shin Rin berdoa dalam
hatinya.
…………………..
Hongbin pov
Dimana aku
sekarang? Kenapa aroma ruangan ini sangat menyengat? Hey, kenapa tangan kiriku
ada senuah benda tajam
yang menembus kuliku? Dan sejak kapan aku memakai pakaian seperti ini?. Aku
terbangun dengan sebuah tanda tanya besar dikepalaku. Setelah mengumpulkan
semua kesadaranku, aku tau aku sedang berada di Rumah Sakit, itu tercium dari
aroma ruang ini, aroma obat-obatan. Aku melihat Shin Rin tengah tertidur di
kursi dengan tangan yang menopang kepalanya. Manis. Sungguh, saat seperti ini
aku merasa dekat dengannya. Disebrang sana aku melihat Ken dan Hak Yeon hyung
sedang terlelap disofa berwana cream. Kenapa aku dibawa kesini? Memangnya aku sakit apa? Aku
kembali bertanya kepada diriku sendiri.
Shin Rin
membuka matanya perlahan, ia terkejut melihatku.
“ Hongbin, kau sudah siuman”
Kalimatnya sontak membuat kedua kakaknya terbangun.
“ Aku akan panggilkan dokter” Hak
Yeon hyung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan ini.
Tak
berapa lama akupun sudah dihampiri 3 orang Dokter sekaligus, dan juga 2 orang
suster. Ketiga Dokter itu memeriksaku dengan seksama, sang suster siap sianga
mencatat apa yang Dokter itu katakan.
“ Hongbin-ssi, bagaimana
keadaanmu, apa ada yang sakit?” Tanya dokter bernama Kim Won Sik.
“ Tidak ada yang sakit dok, memangnya
aku kenapa?” Aku heran, kenapa aku bisa berada di Rumah Sakit ini, seingatku
terakhir aku berada di kamar tamu rumah Shin Rin.
“ Apa kau tak mengingatnya
Hongbin-ssi?” Dokter lainnya bertanya kepadaku.
“ Mengingat apa dok? Aku tak
mengingat apa-apa, yang aku ingat terakhir aku masih berada diluar” Jawabku jujur.
“ Ah baiklah kalau begitu,
istirahatlah, kau kehilangan banyak tenaga, makan yang banyak dan kendalikan
dirimu, ne”
Apa maksud dokter ini dengan kau kehilangan
banyak tenaga dan juga kendalikan dirimu, aku tak mengerti sama sekali.
“ Hongbin... Kau merasa baikan?”
Shin Rin berjalan mendekatiku.
“ Memangnya aku sakit apa?” Ada apa dengan semua orang hari ini,
batinku.
“ Ah... lupakan, yang penting kau
sehat” Shin Rin seperti enggan memberitahuku.
“ Aku sama sekali tidak mengerti
apa yang terjadi pada diriku, terakhir seingatku, aku masih berada dirumahmu,
kenapa sekarang aku ada disini?”
“ Lebih baik kau beristirahat
Hongbin, tubuhmu belum stabil” Ken hyung keluar dari pintu kamar mandi.
“ Tapi aku tak mengerti Hyung,
karena aku sendiri merasa sehat, aku baik-baik saja Hyung” Aku bersikeras untuk
mengatakan Aku baik-baik saja.
“ Keluarga dari pasien bernama
Lee Hongbin, anda dimohon untuk menemui dokter” Seorang suster datang
‘memisahkan’ perdebatan ini.
“ Aku Hyung nya suster” Hak Yeon
Hyung mengangkat tangannya.
“ Mari ikut saya, ada yang ingin
dokter bicarakan dengan anda” Ujar sang suster sopan.
Hak Yeon Hyung
akhirnya mengikuti suster itu keluar dari ruangan ini.
…………………..
Author pov
Di sinilah
namja berbadan kekar a.k.a Lee Hongbin dirawat, Seoul Hospital. Rumah sakit ini
terletak dipusat kota. Hongbin dirawat di kamar nomor 22, Hak Yeon mengambil
kelas VIP yang terdiri dari seorang pasien saja, meskipun baru mengenal
Hongbin, Hak Yeon tidak tega jika Hongbin ditempatkan bersama dengan pasien
lain, mengingat penyakit Hongbin yang aneh itu.
“ Rin... aku pulang dulu ne? Aku
ingin membersihkan badanku dan mengambil beberapa pakaian untuk Hongbin” Ken
berbicara kepada Shin Rin yang sedang menyibakkan gorden, agar sinar matahari
masuk keruangan itu.
“ Ne... Jangan lupa bawakan
pakaian ku juga ya oppa, aku sudah menyuruh Bibi Seung untuk menyiapkannya”
“ Arraseo, Dan untukmu Hongbin!
Istirahat yang cukup, awas kau macam-macam” Ken memberikan Death glare kepada
Hongbin –meskipun itu bukan death glare yang mematikan karena lebih
terkesa lucu-.
“ Ne hyung, aku akan istirahat,
gomawo Hyung” Hongbin menundukkan kepalanya. “ Karena aku kalian jadi repot
seperti ini”
“ Sudahlah Hongbin, tak usah
berterima kasih terus, intinya kau sehat kami juga ikut senang” Shin Rin
mengeluarkan senyumannya.
“ Ck,Rin, asal kau tau, aku saja
tak pernah mendapat senyuman seperti itu darimu” ucap Ken sinis.
“ Memang kau tak pantas mendapat
senyuman dari ku oppa, kau lebih pantas mendapat ini...” Plok, dijitaknya
kepada Ken oleh Shin Rin.
“ YA! Dasar bocah tengik!” Ken
sekarang berusaha membalas jitakan Shin Rin. Mereka seperti kucing -Ken- yang
sedang mengejar mangsanya -Shin Rin-. Mereka berkejaran mengelilingi ruangan. “
Kalau aku tidak ingat ini dirumah sakit, sudah habis kau denganku Rin” Ken
mengepalkan tangannya. Sedangkan Hongbin hanya tertawa melihat kelakuan kakak
beradik ini.
“ Aku tidak akan takut padamu
oppa” Shin Rin meledek sang kakak.
“ Ah, bisa gila aku mempunyai
dongseang sepertimu, aku pergi dulu” Ken berlalu keluar dari kamar itu.
“ Hahahaha dasar Ken oppa
cerewet, Hati-hati dijalan oppa” Shin Rin tak dapat menahan tawanya melihat
kelakuan kakaknya.
“ Hahahahahaha... Kakakmu lucu
sekali Shin Rin” Hongbin berbicara kepada Shin Rin, Shin Rin menarik bangku
untuk duduk disamping ranjang Hongbin.
“ Itulah kakakku, mereka memang
ajaib, dan Hongbin, panggil saja aku Rin, aku tak terbiasa dipanggil Shin Rin”
Kini Shin Rin sedang mengupas buah apel dengan telaten.
“ Baiklah, Rin... gomawo” Suara
Hongbin terdengar tulus.
“ Hongbin, sudah berapa kali aku
katakan jangan selalu ber terima ka- awww” Saking seriusnya berbicara dengan
Hongbin Shin Rin tidak memperhatikan apel yang dikupasnya. Alhasil, sekarang
tangannya tergores pisau.
“ Rin, gwencana? Kemarikan
tanganmu” Hongbin meraih tangan Shin Rin dan menghisap darah yang keluar dari
jari telunjuk Shin Rin.
Shin
Rin kaget dengan perlakuan Hongbin, sebenarnya ia saat ini sedang malu. Shin
Rin terpaku melihat Hongbin. Merasa seperti diperhatikan, Hongbin menoleh ke
arah Shin Rin, bibir Hongbin masih menempel di jari manis Shin Rin, kedua manik
mata mereka bertemu, sampai akhirnya seseorang membuka pintu dan menghancurkan
adengan romantis ini.
“ Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan Hak Yeon membuat kedua manusia itu kaget.
“ Ti tidak apa-apa” Ucap Shin Rin
terbata-bata.
“ Kenapa tanganmu ada di bibir
Hongbin eoh?” Sadar dari lamunannya Hongbin segera melepaskan ‘ciuman’ dari
tangan Shin Rin.
“ Ah itu, tadi tak sengaja Rin
melukai tangannya” Bela Hongbin malu-malu.
Rona
merah muda di pipi Shin Rin mungcul kembali, ditambah Hongbin yang salah
tingkah. Hak Yeon yang melihat mereka seperti kepiting rebus hanya terkekeh
menahan tawanya.
…………………..
Semburan
oranye di langit kini terganti dengan warna hitam yang dihiasi kerlip-kerlip
nan cantik diatas sana. Lampu-lampu dijalan mulai dinyalakan, Hilir mudik orang
maupun kendaraan satu per satu telah menghilang, digantikan dengan hangatnya
kebersamaan didalam kotak kehidupan yang bernama rumah. Shin Rin melihat
pemandangan diluar sana dari rooftop rumah sakit. Ini adalah kebiasaan seorang
Shin Rin, jika ia membutuhkan ketenangan, dia akan mencari rooftop. Baginya,
disini ia bisa mengeluarkan apapun tanpa orang mengetahuinya. Lamunan Shin Rin
buyar tatkala Handphone di saku celananya berdering. Shin Rin bercakap dengan
orang yang berada disebrang sana, setelah selesai ia mematikan Handphone nya
dan kembali menaruh disaku celananya. Sekitar 10 menit berlalu datanglah
seorang pemuda dengan sweater berwarna coklat, celana jeans panjang berwarna
biru dan tak ketonggalan sneakers berwarna merah menghampiri Shin Rin, yang tak
lain adalah Cha Hak Yeon,
“ Rin, sedang apa kau disini? Ayo
masuk, nanti kau sakit” Kekhawatiran Hak Yeon bukan tanpa alasan, karena angin
sedari tadi berhembus cukup kencang.
“ Ani, tenang saja oppa, aku
sudah terbiasa dengan udara seperti ini”
“ Bukan Cha Shin Rin namanya jika
menurut apa perkataanku”
“ Hahaha, tau saja kau Cha Hak
Yeon” Shin Rin tertawa mengejek.
“ Ingat Shin Rin aku masih
berstatus oppamu”
“ Mianhae, i’m just kidding
okay?” Shin Rin menepuk pundak Hak Yeon
Hening
beberapa saat, kedua manusia ini sedang merasakan terpaan angin mengelus wajah
mereka, mereka memejamkan mata untuk merasakannya.
“ Rin, aku ingin bicara sesuatu”
Hak Yeon memecahkan keheningan mereka.
“ Ada apa oppa? Katakan saja”
“ Hmm tadi aku menemui dokter
yang memeriksa Hongbin. Ternyata Hongbin didiagnosis mengidap Skizofrenia”
“ Skizofrenia? Penyakit apa itu
oppa?” Shin Rin baru pertama kali mendengar nama penyakit itu.
“ Dari penjelasan dokter tadi,
penyakit Skizofrenia menmpengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi
normal pikiran, perasaan dan tingkah laku. Intinya, Hongbin harus menjalani
perawatan psikologis”
“ Apakah penyakit itu berbahaya
oppa?” Nada bicara Shin Rin terlihat khawatir.
“ Aku juga tidak terlalu mengerti
tentang penyakit itu” Hak Yeon menggaruk kepalanya yang tak gatal. “ Lebih baik
besok kau tanyakan kepada dokter yang merawat Hongbin. Semoga saja penyakit itu
tidak berbahaya untuk Hongbin”
“ Semoga saja oppa”
…………………..
Shin Rin pov
Hari ini aku harus menemui dokter yang
memeriksa Hongbin. Aku harus tau seberapa parah penyakit Hongbin. Tapi...
dimana ruangan dokter itu, Sewaktu Hongbin diperiksa kemarin ia diperksa oleh 3
orang dokter sekaligus, tapi yang mana dari ketiga dokter itu yang merupakan
dokter bagian psikologis. Aku berpikir keras sambil berjalan melewati
lorong-lorong rumah sakit. Entah kebetulan atau apa, aku bertemu dengan dokter
yang kemarin di ruang UGD.
“ Hmm, permisi dok, kalau boleh
tau ruangan dokter psikolog ada dimana ya?”
“ Bukankah kau keluarga dari
pasien Hongbin?” Ah... ternyata dokter ini mengenaliku.
“ Ya benar aku keluarganya”
“ Mari kuantar kau keruangan Leo,
Kenalkan aku Kim Won Sik Dokter bagian saraf”
“ Aku Cha Shin Rin” Aku menjabat
tangan Dr. Kim Won Sik
Aku
berjalan bersama dengan Dr. Kim Won Sik menuju bagian psikologis. Tak berapa
lama kamipun sampai.
“ Ini ruangannya, dia ada
didalam, sepertinya tak ada pasien, kau bisa langsung masuk” Perintah Dr. Kim
Won Sik.
“ Gomawo Kim Uisa”
“ Panggil saja aku Ravi, Terlalu
formal jika kau memanggilku seperti itu” Aku merasa tak nyaman dengan tatapan
Dr. Ravi yang errr sangat tajam itu.
“ Baiklah Ravi uisa” Aku bergegas
meninggalkannya dan memasuki ruangan.
Terlihat
sesosok pria menggunakan jas berwarna putih tengah menulis seusatu di mejanya.
Baru saja aku ingin bertanya, pria itu langsung mempersilahkan aku duduk.
“ Uisa, aku ingin bertanya,
sebenarnya, apa yang terjadi dengan pasien bernama Hongbin?” Aku bertanya to
the point.
“ Pasien Hongbin mengidap
penyakit Skizofrenia, yakni penyakit yang menyerang saraf pada otak. Hongbin
menderita skizofrenia yang mengacu pada tipe Residualis yakni, sering
berkhayal, berhalusinasi tidak teratur dalam berbicara dan berprilaku. Pasti
Hongbin sering meracau tidak jelas kan? Dia seperti memiliki ‘teman’ dari
dunianya sendiri” Dr. Jung Taek Woon -nama itu yang ada di nametag nya-
menjelaskan dengan ekspresi datar.
“ Ne uisa, Hongbin sudah dua kali
perprilaku aneh seperti itu. Penyebab Hongbin mengalami Skizofrenia karena apa
uisa?” Aku memang saat sangat buta untuk urusan kedokteran.
“ Penyebabnya bisa
bermacam-macam, bisa karena akibat unsur kimia pada otak yang bermasalah, faktor
genetika dan lingkungan, kondisi hidup yang penuh stres, atau yang lainnya”
Aku berusaha
mencerna tiap-tiap kata yang dikatakan Dr. Jung Taek Woon.
“ Penyakit ini tidak bisa
disembuhkan secara total” Perkataan dokter ini membuatku tercekat, “ Namun dengan
tes laboratorium, dukungan moril dari keluarga terdekat dan evaluasi psikologis
secara berkala, gejala kambuhnya penyakit itu bisa diturunkan” Dokter ini
sepertinya bisa membaca mimik wajahku, buktinya aku belum bertanya, dia sudah
menjelaskan secara panjang lebar.
“ Kamsamnida Jung uisa, aku harap
kau bisa membantu Hongbin menyembuhkan penyakitnya”
“ Ne...” Wajahnya sangat dingin
untuk ukuran seorang dokter. Beda sekali dengan Ravi uisa yang ramah dan murah
senyum.
…………………..
Karena
pengap dengan suasana rumah sakit, aku memutuskan untuk menghirup udara diluar.
Sekarang aku berada di sebuah cafe dekat rumah sakit. Hongbin aku titipkan
kepada Ken oppa. Aku memesan segelas Hot chocolate. Sambil menyesap minumanku
aku menatap jalan diluar. Pikiranku tertuju pada perpustakaan dimana aku
menemukan Hongbin. Hasrat ingin mengetahui siapa Hongbin seketika muncul. Aku
masih penasaran dengan identitas Hongbin. Sampai suara seseorang menyadarkanku.
“ Rin! Apa yang kau lakukan
disini?” Hyuk, sahabatku ternyata datang.
“ Tidak lihat aku sedang minum
segelas chocolate?” Ucapku ketus.
“ Uuuu ketus sekali nada
bicaramu, pasti kau sedang dirundung masalah, aku tau itu. Ayolaah cerita
padaku, ada masalah apa?” Gotcha! Hyuk memang selalu tau jika aku sedang banyak
pikiran, ia bisa membaca ekspresiku. Tidak salah memang aku berteman dengannya.
“ Aku sedang memikirkan seseorang
Hyuk”
“ Huaaah! Kau sedang memikirkan
kekasihmu? Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa kau tak menceritakannya
padaku?” Hyuk membrondongku dengan beberapa pertanyaan bodohnya.
“ Yaish! Paboya! Aku tidak
memiliki kekasih Hyuk!” Aku menjitak kepalanya.
“ Appo, Lalu siapa yang sedang
kau pikiirkan? Namja kah? Yoeja kah? Ayolaah ceritkan, aku penasaran”
“ Jika kau kesini hanya untuk
memperberat pikiranku, lebih baik kau pergi darisini”
“ Oke-oke aku akan diam. Tapi
mulailah bercerita Rin”
Aku membuang
nafas sesaat.
“ Namanya Hongbin, dia seorang
laki-laki yang kutemukan terkunci di sebuah ruangan di perpustakaan kota. Saat
kutemukan tubuhnya sangat lemas. Karena tak tega, aku membawanya pulang
kerumah. Sehari berada dirumahku, dia berprilaku aneh dan sekarang dia ada
dirumah sakit” Aku mulai bercerita kepada Hyuk.
“ Aneh maksudmu?” Alis Hyuk turun
tanda ia tak mengerti.
“ Dan ternyata dia terkena penyakit
Skizofrenia, dia sering berhalusinasi sendiri seperti ada orang yang ingin
membunuhnya. Kata uisa ia harus menjalani terapi dirumah sakit”
“ Masalahnya?” Hyuk masih setia
mendengarkanku.
“ Masalahnya adalah aku tidak tau
siapa dia sebenarnya, tempat tinggalnya, asal dia darimana, keluarganya, bahkan
identitas yang ku tau dari dia hanya namanya saja” Sesaat hening menyelimuti
atmosfer kita berdua.
“ Hmm bagaimana kalau aku
membantumu mencari siapa dia sebenarnya?”
“ Caranya?”
“ Tadi kau bilang kau menemukannya
di perpustakaan kota? Bagaimana kalau kita coba menanyakan kepada penjaga
perpustakaan kota? Siapa tau dia mengetahuinya” Hyuk memberikan usul.
“ Tapi aku tak yakin kalau
penjaga perpustakaan itu tau tentang Hongbin”
“ Tak ada salahnya mencoba kan?”
Hyuk meyakinkanku akan idenya.
“ Baiklah, tapi janji kau akan
membantuku kan?” Aku mengangkat jari kelingkingku.
“ Janji! Aku tak mungkin
membiarkan sahabatku kalut dalam masalahnya kan?” Hyuk menyambut jari kelingkingku tanda
perjanjian kami.
“ Besok kita mulai, oke?”
“ Oke call!” Aku bersyukur
memiliki Hyuk yang dapat membantuku kapan aku butuhkan. Meskipun ia
kadang-kadang sering menjengkelkan. Tapi aku mencintainya, sebagai seorang
sahabat tentunya.
Apakah Rin dan Hyuk akan
menemukan siapa sebenarnya seorang Lee Hongbin? Lalu bagaimana dengan keadaan
Hongbin? Akankah Ken menerima Hongbin secara utuh didalam keluarganya? Apakah
Dokter Jung Taekwoon mampu menghadapi penyakit pasiennya yang termasuk penyakit
ekstrim? Dan apakah arti senyuman seorang Kim Won Sik?
-TBC-