Pages

Sabtu, 08 Desember 2012


Hallo hallo :) iseng iseng nih gue mau nge post tulisan... terserah orang deh ini puisi atau apa gue juga bingung -_- tulisan ini dibuat pas lagi istirahat di sekolah, jadi kalo agak agak ngablu maap maap ajadeh ._. hahahah selamat membaca...
 

BERSAMAMU, (BUKAN) TANPAMU
Aku ingin bersamamu
Aku ingin dekat denganmu
Aku ingin…
Aku sangat ingin
Memilikimu seutuhnya
Kau hanya boleh menjadi milikku, tak boleh orang lain memilikimu, tak seorag pun
Sampai akhirnya, aku dimakan oleh rasa keegoisanku sendiri yang ingin memilikimu seutuhnya.
Dia…
Merebutmu dariku
Aku tak berkutik saat kau mengutarakan perasaanmu padaku
Tapi…
Bukan itu…
Kau mengutarakan perasaanmu pada dirinya
Di depanku…
Di depan hatiku yang terluka
Aku sadar…
Aku tak berarti bagimu
Aku hanya debu yang kapan saja  bisa tersapu oleh kuatnya angin
Menjerit…
Hati ini menangis
Seperti mendapat goncangan yang teramat besar
Tubuhku terguncang.
Betapa beruntungnya dia…
Bisa memilikimu seutuhnya
Betapa bahagianya dia
Dan kau…
Aku tau ini yang kau inginkan bukan?
Melihatnya tersenyum dengan mu?
Aku iri…
Aku ingin berada di posisi dia
Aku ingin tersenyum bersamamu
Bukan tanpamu…




MAAF… IKUTLAH BERSAMAKU

Wanita itu berjalan lunglai menuju mobilnya. Wajahnya memerah, tubuhnya tak terkendali, bau alcohol menyerbak dari mulutnya. Berusaha dengan sekuat tenaga ia membuka pintu mobil, memasangkan kunci pada lubangnya, memasukan persneling dan menginjak gas. Dengan keadaan setengah sadar dari pengaruh alcohol, ia mengendarai mobil seakan tak ada satu kendaraan pun yang berada di sekitarnya.
Udara panas mengepung tubuhnya, ia pun membuka jendela, angin semilir serasa berebut untuk masuk ke dalam mobil. Dirasa tak ada kendaraan di dekatnya, wanita itu menambah kecepatan laju mobilnya. Keadaan malam itu sangat sepi, bahkan tak ada satupun petugas kepolisian yang berjaga, jadi wanita itu bisa dengan leluasa melajukan kendaraannya dengan cepat. Tiba-tiba dalam penglihatannya terlihat seorang laki laki di depan mobilnya, sontak dengan cepat ia menginjak rem, tapi naas takdir berkata lain.

Xxxxxxx

Rin –nama gadis itu- terus melajukan mobilnya, bak dirasuki setan, ia mengendarai mobilnya dengan sangatcepat. Tangannya bergetar, peluh membasahi tubuhnya, jantungnya seolah tak mau berhenti berdetak, nafasnya memburunya. Ia baru saja membuat kesalahan besar. “ Apakah orang tadi selamat? Atau dia sudah mati?” pertanyaan itu terus mengiang di kepalanya, pandangan matanya tak lepas dari jalanan di depannya, Rin tak mau kejadian tadi terulang lagi. Entah kemana ia akan menuju, ia sudah sangat takut, bagaikan lingkaran hitam yang siap menelannya hidup-hidup. Rin mengambil handphone yang dia taruh di dashboard mobilnya, jari-jari lentiknya mulai menekan nomor nomor di layar handphone nya, tapi buru-buru dilemparnya handphone itu, “ Tidak, aku tidak bisa memberitahukan siapapun tentang kejadian ini, aku tak mau masuk penjara, aku tak mau menyakiti hati pacarku, terlebih hati orang tua ku sendiri, entah apa jadinya apabila mereka tau aku aku baru saja menghilangkan nyawa orang lain, masa depanku hancur jika semua orang tau apa yang terjadi” kalimat demi kalimat berkecamuk di hati dan fikirannya.
  Aku tidak bersalah… itu hanya sebuah kecelakaan, semua orang pernah melakukan hal dengan tidak sengaja, toh… dia tidak melihatku, dan lagi pula tidak ada orang yang melihat kejadian itu. AKU BUKAN PEMBUNUH” ia terus menerus berbicara yang ia tidak sadari ia hanya menghindar dari kenyataan yang ada.

Xxxxxxx
“ Ada ribut ribut apa ini? Mengapa orang orang berkerumun di sana? Apa yang terjadi? “ sepasang mata laki laki yang bernama Gary keheranan melihat kerumunan orang-orang di sebrang sana, segera saja ia mendekati kerumunan orang itu, “ Ya tuhan, kasihan sekali orang ini, tubuhnya mengerikan” “ Hanya manusia yang tak punya hati yang berbuat keji seperti ini “, komentar salah satu orang yang berada dalam kerumunan itu. Gary ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Ia menepuk pundak salah seorang bapak yang berada di  dekatnya, tapi… ada yang aneh… alih alih ingin menepuk bahu ia malah menemukan kejanggalan pada dirinya sendiri, tangannya malah menembus bapak itu, sekali lagi ia mencoba, hasilnya tetap sama,. “ Apa yang terjadi padaku? “ pertanyaan itu muncul di benaknya, lantas ia mencoba menerobos kerumunan orang-orang itu, dengan mudah ia dapat menerobos kerumunan orang-orang yang ada di depannya, “ Aneh, kenapa aku bisa dengan mudah menerobos kerumunan ini? Kenapa tak ada yang menyadari keberadaanku?” Gary heran dengan apa yang sedang terjadi. Akhirnya ia sampai ke tengah tengah, ia menunduk, ia sangat tercengang dengan apa yang ia lihat sekarang. Ada tubuh yang terbujur kaku disana, darah segar dari pelipis dan mulut orang itu. Gary meneliti setiap bagian dari orang itu.  “Tunggu dulu… sepertinya aku mengenali wajah ini. Belum sempat ia berfikir sebuah suara datang entah darimana “ Kau sudah berada dalam alam yang berbeda Gary”, Gary? Suara itu menyebut nama Gary! Dari menengok keadaan sekitar, tapi tak ada orang yang berbicara padanya, bahkan mungkin yang mendengar suara itu hanya Gary, karna orang-orang masih terpaku terhadap jasad yang tak bernyawa itu. “ S-s-siapa kau? Kenapa kau tau namaku? Apa maksudmu?” dengan mengumpulkan keberaniannya untuk membalas suara orang misterius itu.  “ Kau tak perlu tau siapa aku, tubuh yang kau lihat tadi itu tubuhmu Gary, kau baru saja ditabrak sebuah mobil” suara itu menjelaskan kepada gary. “ Apa? Itu tubuhku? Ini tak masuk akal, kau lihatkan? Aku ada disini, aku mampu berdiri, tak ada goresan lukapun pada tubuhku, bagaimana bisa?” Gary berceloteh dengan nada sedikit geram. “ Terimalah kenyataan Gary kau bukan lagi berada di dalam alam manusia, tubuh dan arwahmu sudah terpisah, sekarang kau bergabung bersama kami Gary…” “ Kau pasti berbohong padaku kan? Tunjukkan wajahmu supaya aku dapat percaya kata katamu!” amarah mulai menguasai tubuhnya, Gary tak mampu menerima kenyataan bahwa ia sekarang bukanlah seorang manusia, melainkan ia sudah menjadi arwah yang terpisah dari tubuhnya

Xxxxxxx

Sudah 5 jam ia mengendarai mobil jazz-nya tanpa henti, ia masih tak tau harus kemana, lingkaran hitam di matanya terlihat sangat jelas, wajahnya kusam terlihat kelelahan. Rin pun berencana untuk beristirahat sebentar, sekedar untuk merentangkan badannya karna lelah setelah menyetir berjam jam, fikiran Rin masih tertuju pada peristiwa yang telah ia lakukan karna kebodohannya, “ Kenapa aku harus mabuk pada saat itu, jika aku tidak mabuk, pasti tidak akan terjadi seperti ini”! Rin menyesalkan kebodohannya itu. Kristal bening mulai jatuh di pipinya, entah sudah berapa kali Rin menangis, tapi ia menyadari sekencang apapun dia menangis, sekeras apa pun ia menangis, tidak akan membuat segala sesuatunya berubah, justru itu makin memperburuk keadaan.
Sehabis menangis, ia baru menyadari ia tak tau tempat dimana sekarang ia perpijak, disekitar sini hanya terlihat pohon-pohon tinggi, jalanan disini pun sangat sepi, tak ada satu pun kendaraan yang melewati jalan ini, padahal sekarang sudah pukul 08:00 pagi, mungkin hanya Rin lah manusia yang berada di tempat ini. Sebenarnya Rin sedikit lega dengan ia berada disini, karna tak mungkin polisi akan mengejarnya kesini. Senyumnya sedikit mengembang di bibir tipisnya, hatinya agak sedikit lega, meskipun kekhawatiran tak bisa ia pungkiri.
Karena bosan terus menerus berada di dalam mobil, Rin pun mencoba keluar mobil, ia merentangkan tangannya keatas, menghirup udara pagi, segar… pikirnya. Sejenak ia melupakan ketakutannya. Ia menuju ke sebuah pohon besar yang tak jauh dari mobil yang ia parkirkan, ia duduk di bawah pohon rindang itu, dan mulai memejamkan matanya…
Rin membuka matanya, buru buru ia melihat jam tangannya, astaga! Sudah pukul 06;00 petang! Ia baru menyadari ternyata ia tak sengaja tertidur dibawah pohon itu. Dilihatnya keadaan sekitar, masih sepi… masih seperti tadi pagi, tapi sekarang suasananya menjadi lebih mencekam, berbeda sekali dengan apa yang Rin lihat tadi pagi, bulu kuduk rin mulai berdiri, udara dingin mulai menusuk setiap persendian. Dengan ketakutan Rin menuju mobilnya, mungkin dengan dia berada di dalam mobil akan lebih aman, pikir Rin. Ia mencoba menstarter mobilnya dan memulai lagi ‘petualangannya’. Ia sebenarnya tak tau harus kemana lagi, sampai pada akhirnya ia melihat seseorang berjalan di bahu jalan, Rin berinisiatif ingin bertanya pada orang itu, ia berada dimana sekarang. Buru-buru ia memberhentikan mobilnya di bahu jalan, dan berlari kecil menuju orang itu. “ Permisi pak, sekarang ini ada dimana ya pak?” Rin bertanya kepada orang itu, orang itu tetap memunggungi Ri, tak ada jawaban dari orang itu. Aneh mengapa orang ini tak menjawab, apa ia tak mendengarku? Batin Rin. Sekali lagi ia bertanya pada orang yang kalau dilihat perawakannya seperti seorang bapak bapak, Rin menepuk bahu bapak itu, dingin, pundak bapak itu sangat dingin, seketika bulu kuduk rin berdiri, seperti ada yang tak beres, tapi Rin tetap tak acuh, karna sepanjang perjalanan tadi hanya bapak ini yang ia temui, dan ia juga sangat penasaran ia berada dimana. Bapak itu menoleh, bapak itu menjawab “ kau berada dihutan, kau tak bisa keluar dari sini, kau akan ikut bersamaku!” Rin tercengang dengan kata-kata bapak itu, tubuhnya terasa membeku, Rin tak bisa bergerak, matanya masih terpaku melihat wajah bapak itu. Tiba-tiba dari pelipis bapak itu mengucurlah darah segar, disusul dengan mulutnya yang juga mengeluarkan darah, seketika wajah bapak itu berubah menjadi wajah laki-laki yang ia tabrak kemarin. “ Aaaaaa…..” Rin berteriak sekuat tenaga, Ia sangat ketakutan, buru-buru ia berlari menuju mobilnya dan mulai menstarter mobilnya, lalu menginjak gas dengan sekuat tenaga, “ Tidak! Tidak mungkin! Aku pasti salah lihat!” Rin mencoba membuang kekhawatirannya, ketika ia mengengok kearah kanan, terdapat tulisan pada kaca jendela mobilnya, “ Sejauh apapun kau berlari, Aku akan terus mengejarmu, KEMANA PUN KAU PERGI! Tulisan itu seperti ditulis dengan darah segar, karna seketika di dalam mobil tercium aroma anyir. Rin berteriak lagi, sampai-sampai ia kehilangan kendali mobilnya. Tak tau darimana, ada sorot lampu yang menyorot mata Rin, seperti kendaraan besar, dengan singap ia membanting stir mobilnya ke kiri, tapi ternyata langkah yang ia ambil salah, ia malah kehilangan kendali dan menabrak pohon besar yang ada di depannya. Duagh! Tubuh rin membentur stir mobilnya, kaca depan mobilnya pecah, kap mobilnya pun ringsek, darah mengucur dari dahi, mulut dan hidung Rin. Rin sadar dari pinsannya, ia berusaha keluar mobilnya, meskipun ia belum sepenuhnya sadar, tapi Rin tetap memaksakannya. Rin berhasil keluar mobil, ia berjalan menjauh dari mobilnya. Tak ada orang yang menolongnya, mungkin karna memang tak ada orang sekitar sini. Rin berjalan sempoyongan, dadanya sangat sesak, karna hantaman yang keras tadi.
Dari kejauhan Rin seperti melihat gubuk tua diterangi cahaya lampu, dibenaknya mungkin ia bisa beristirahat sebentar di gubuk itu, dengan masih menahan sakit Rin pun menuju gubuk itu. Akhirnya Rin sampai juga di gubuk itu, gubuk itu terlihat sudah sangat usang, tapi Rin tak peduli, ia merebahkan tubuhnya, sakit sekali, tubuhnya seperti hancur berkeping keping, dan dadanya sangat sesak sekali, bahkan untuk bernafas saja Rin sangat susah.
“ Rin… Shinrin…” terdengar sebuah suara yang memanggil nama Rin, Rin pun mencari sumber suara, tapi ia tak juga menemukan sosok itu. “ Rin… Shinrin…” suara itu memanggil nama Rin lagi, Rin tercengat, seperti listrik yang menyetrum tubuhnya. “ Ada yang tak beres dengan tempat ini” piker Rin. Ia pun segera bangkin dan meninggalkan gubuk tua itu, Rin terus berjalan, di pikirannya sekarang, hanya bagaimana ia bisa keluar dari hutan ini. “ Srek… srek… srek…” sebuah suara seperti langkah kaki yang diseret terdengar dari belakang tubuh Rin, Rin tak menyadarinya. “ Srek… srek… srek…” suara itu makin mendekat dengan tubuh Rin, Rin menyadari ada yang mengikutinya dari belakang, karna ketakutan ia tak berani menengok ke belakang, lama-lama langkah Rin menjadi lebih cepat, dan sekarang bisa dibilang Rin berlari, tapi suara itu tetap megikutinya. Karna lelah Rin memperlambat larinya, dengan berani dia membalikkan badan dan bertemulah dia dengan sesosok laki-laki, diwajah dan badannya terlihat banyak luka dan darah mengalir, bau anyir menyeruak kemana-mana. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gary. Korban tabrak lari yang dilakukan oleh Rin, Rin terperanjat melihat sosok itu, ia memutar kembali otaknya, dan sadar bahwa laki-laki itu adalah korbannya. “ M-m-mau apa kau? Kau sudah mati! Kau tak boleh menggangguku” Rin berbicara dengan terbata-bata, ia berbicara sambil berjalan mundur, “ Aku memang sudah mati! Itu karna ulahmu! Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu!” Gary berjalan mendekati Rin. “ Tidak! Aku tidak akan ikut denganmu! Aku tidak mau ikut denganmu!”. Tanpa Rin sadari ternyata dibelakangnya ada sebuah lubang galian yang sangat besar, sehingga Rin pun jatuh terjerembab ke dalam lubang itu.
“ Aaaaaaaaaaaaaaaa…” suara Rin bergema dalam lubang itu. Tubuh Rin tertancap besi panjang yang berada di dasar lubang, besi itu menembus punggu hingga dadanya. Gary yang melihatnya dari atas lubang tersenyum penuh kemenangan, dendamnya sudah terbalaskan, orang yang membunuhnya, sekarang ikut mati bersamanya.

Xxxxxxx

Rin… sebenarnya aku tak ingin membalaskan dendamku ini padamu…
Tapi… aku tak bisa terima jika kau membuatku seperti ini…
Kau yang membuatku terkulai tak bernyawa…
Kau tak yang bertanggung jawab atas kematianku!
Kau hanya berusaha lari dari kenyataan…
Maaf… Aku harus membalaskan dendamku padamu… Itu karna kau yang memulainya…